Bakar Lahan Berisiko Picu Karhutla, PISAgro Tawarkan Dukungan Swasta

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Okt 2026, 17:10
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Co-Chair Partnership for Indonesia's Sustainable Agriculture (PISAgro) Franky Oesman Widjaja Co-Chair Partnership for Indonesia's Sustainable Agriculture (PISAgro) Franky Oesman Widjaja (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)

Ntvnews.id, Jakarta - Praktik pembakaran lahan masih menjadi salah satu faktor yang berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, terutama ketika kondisi cuaca panas dan kering.

Untuk mencegah hal tersebut, sektor swasta dinilai dapat berperan dengan memberikan dukungan dalam membuka lahan tanpa membakar.

Co-Chair Partnership for Indonesia's Sustainable Agriculture (PISAgro) Franky Oesman Widjaja mengatakan praktik pembakaran lahan termasuk yang dilakukan dengan alasan kearifan lokal perlu dihindari ketika kondisi cuaca sangat panas dan kering.

Menurutnya risiko kebakaran semakin besar ketika kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan fenomena El Nino yang dapat menyebabkan musim kering berkepanjangan.

"Pak Presiden juga sudah bilang bahwa kearifan lokal yang bakar 2 hektare itu harusnya jangan dilakukan, khususnya apalagi El Nino. Lagi sangat panas udara, kering, sudah lama berbulan-bulan tidak hujan. Nah, itu gampang terbakar," ucap Franky, Selasa 6 Oktober 2026.

Baca Juga: Apresiasi Bantuan Karhutla, 361 Anggota Tim Jepang Terima Tanda Kehormatan RI

Lebih lanjut, ia menyebut pembakaran lahan dalam kondisi kering juga semakin berisiko apabila disertai angin kencang.

Menurutnya api yang awalnya digunakan untuk membuka lahan dapat dengan cepat merambat ke area lain dan memicu kebakaran yang lebih luas.

Untuk mengurangi praktik pembakaran lahan, Franky mengatakan pihak swasta dapat memberikan alternatif kepada masyarakat yang membutuhkan lahan untuk kegiatan pertanian. Salah satunya dengan membantu proses pembukaan lahan menggunakan alat berat seperti excavator.

"Jadi yang kita bisa tawarkan ke dari swasta untuk bisa kalau mau buka lahan, kita bantu pakai excavator dan sebagainya tidak perlu bakar. Nah itu adalah salah satu inisiatif," jelasnya.

Ia menegaskan pendekatan tersebut telah dijalankan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, salah satunya Desa Makmur Peduli Api (DMPA).

Program tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mendorong pengelolaan lahan tanpa pembakaran. Franky menyebut inisiatif DMPA telah dijalankan sejak sekitar 2014-2015.

Baca Juga: BRIN Perkuat AI untuk Deteksi Dini Karhutla dan Titik Panas

Ia menilai pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk mencegah karhutla.

Sebab, masyarakat juga memiliki kepentingan untuk menjaga lahan agar tidak terbakar dan merusak produktivitas pertanian.

"Jadi itu cukup manjur karena mereka juga enggak mau lahannya terbakar, produktivitasnya hilang," katanya.

Franky menilai petani dapat menjadi mitra penting dalam menjaga lingkungan dan mencegah karhutla apabila mendapatkan pembinaan serta pemahaman yang memadai.

"Petani itu tinggal kalau dibina dengan baik, diberitahu dengan baik, saya rasa bisa jadi partner yang sangat kuat," tutupnya.

x|close