Ntvnews.id, Jakarta - Indonesia berpeluang menghemat devisa sebesar Rp7 triliun hingga Rp9 triliun setiap tahun melalui pengembangan hilirisasi bauksit. Hal tersebut disampaikan Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), Arif Haendra.
“Sekarang dengan memiliki sendiri alumina maka kita tidak perlu impor. Itu sudah menghemat devisa kurang lebih Rp7 triliun sampai Rp9 triliun gitu ya. Dengan Inalum sudah tidak mengimpor alumina,” kata Arif dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026.
Inalum yang tergabung dalam holding industri pertambangan MIND ID kini mampu memenuhi kebutuhan alumina melalui produksi dalam negeri. Sebelumnya, perusahaan masih mengandalkan impor untuk memperoleh bahan baku yang digunakan dalam proses produksi aluminium.
Kemandirian pasokan tersebut didukung oleh pengembangan rantai industri terintegrasi, mulai dari penambangan bauksit, pemurnian menjadi alumina, hingga pengolahan menjadi aluminium. Dengan sistem ini, sumber daya mineral Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan industri nasional sekaligus menekan ketergantungan pada produk impor.
Dalam memperkuat rantai pasok tersebut, Inalum bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terus mengembangkan ekosistem hilirisasi bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat. Pengembangan kawasan tersebut mencakup enam proyek, yakni lima proyek di lingkungan Grup MIND ID dan satu proyek milik Pelindo.
Baca Juga: Indonesia Stop Impor Solar, Hemat Devisa Rp170 Triliun
Dari sisi hulu, pasokan bijih bauksit berasal dari satu izin usaha pertambangan (IUP) milik Antam serta enam IUP yang dikelola anak perusahaan Antam. Bijih tersebut kemudian diolah di fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) menjadi alumina untuk memenuhi kebutuhan industri aluminium.
SGAR fase I telah beroperasi dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta ton alumina per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 550 ribu ton dialokasikan untuk kebutuhan Inalum berdasarkan perjanjian jangka panjang, sementara 450 ribu ton lainnya diperuntukkan bagi pasar ekspor.
Keberadaan fasilitas pemurnian ini menjadi langkah penting untuk memperkuat kemandirian pasokan bahan baku aluminium di Indonesia. Selain memenuhi kebutuhan industri dalam negeri, kapasitas produksi yang tersedia juga memungkinkan Indonesia memasok alumina ke pasar internasional.
Pengembangan ekosistem hilirisasi akan berlanjut melalui pembangunan SGAR fase II. Arif menyampaikan bahwa studi kelayakan yang memenuhi persyaratan perbankan atau bankable feasibility study (BFS) untuk proyek tersebut telah rampung. Proyek itu selanjutnya akan memasuki tahap keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) dalam waktu dekat.
Baca Juga: Cadangan Devisa RI Turun Tipis USD146,3 Miliar Dolar AS Pada September 2026
Penguatan rantai industri bauksit–alumina–aluminium diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperkokoh industri aluminium nasional.
Selain itu, ketersediaan bahan baku dari dalam negeri menjadi modal untuk meningkatkan daya saing industri pengolahan. Pemanfaatan aluminium juga berpotensi diperluas ke berbagai sektor, termasuk manufaktur kendaraan listrik (EV), konstruksi, transportasi, dan kelistrikan.
(Sumber: Antara)
Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID menegaskan komitmennya dalam mendukung transisi energi nasional melalui penguatan hilirisasi bauksit secara terintegrasi di dalam negeri (Antara)