Ntvnews.id, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk memperluas pengembangan ekonomi dan keuangan syariah (eksyar). Peluang tersebut didukung oleh besarnya populasi muslim di Indonesia serta nilai-nilai universal syariah yang relevan bagi masyarakat dunia.
Dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia masih menempati peringkat keempat dunia. Meski capaian itu patut diapresiasi, Destry mengingatkan bahwa Indonesia perlu terus meningkatkan upaya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.
“Dengan kita melihat skala yang lebih besar, maka peluang dari pengembangan ekonomi keuangan syariah ini akan sangat tinggi sekali. Jadi bukan hanya di negara yang berbasis masyarakat muslim, tapi juga negara-negara lain yang mungkin muslimnya terbatas,” kata Destry dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026.
Menurut Destry, penerapan ekonomi dan keuangan syariah tidak terbatas pada negara dengan mayoritas penduduk muslim. Prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya juga dapat diterapkan secara luas karena mencakup nilai inklusivitas, keberlanjutan (sustainability), dan keadilan (fairness).
Ia menjelaskan, prinsip inklusivitas mendorong pembangunan yang memberikan kesempatan kepada seluruh kelompok masyarakat, termasuk dalam memperoleh akses terhadap layanan keuangan. Sementara itu, prinsip keberlanjutan mengedepankan pentingnya menjaga alam sebagai ciptaan Tuhan.
Baca Juga: Sapta Nirwandar: Ekonomi Syariah Harus Terus Dikembangkan di Tengah Gejolak Global
Adapun prinsip keadilan menekankan agar manfaat pembangunan dapat dinikmati secara merata oleh berbagai lapisan masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu.
Destry menilai nilai-nilai tersebut semakin relevan untuk diterapkan dalam beragam model usaha, termasuk bisnis konvensional.
Ia juga menyoroti perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di kawasan ASEAN. Menurutnya, perhatian terhadap sektor tersebut semakin meluas, tidak hanya di Malaysia, tetapi juga di Filipina dan Thailand yang kini gencar mengembangkan keuangan syariah.
“Ini tentu menjadi PR buat kita, karena kita sudah mempunyai basis yang kuat, tinggal bagaimana kita untuk bisa mendorong ke depan,” kata dia.
Dari sisi ekonomi syariah, catatan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan bahwa rantai nilai halal dalam negeri tumbuh 5,5 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, di sektor keuangan syariah, penerbitan green sukuk Indonesia sejak 2018 telah mencapai 7,7 miliar dolar AS di pasar global dan Rp108,9 triliun di pasar domestik hingga Juni 2026.
Meski penerbitan green sukuk di dalam negeri telah mencapai nilai yang cukup besar, Destry menilai porsinya masih relatif kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan penerbitan obligasi pemerintah. Kondisi ini memperlihatkan adanya peluang untuk memperluas pasar keuangan syariah di Indonesia.
Ia turut mencermati tingginya ketertarikan investor dari negara-negara nonmuslim, termasuk Amerika Serikat dan Eropa, terhadap instrumen tersebut. Menurutnya, minat itu antara lain dipengaruhi karakteristik green sukuk yang mendukung pembiayaan berkelanjutan.
Baca Juga: BI Ungkap Ekonomi Syariah Berpotensi Perkuat Pilar Pembangunan Indonesia
Selain itu, produk keuangan syariah dinilai menarik karena memiliki aset dasar (underlying asset) yang dapat memberikan karakteristik stabilitas tersendiri bagi investor.
Melihat potensi tersebut, Destry mendorong para pemangku kepentingan untuk memperbanyak variasi produk keuangan syariah agar dapat menjawab kebutuhan pasar yang masih besar.
“Saya mengajak kepada para tokoh-tokoh, termasuk Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), mari kita bersama-sama merumuskan agar kita bisa menciptakan produk-produk keuangan syariah yang lebih bervariasi karena sebenarnya demand-nya itu strong sekali, permintaannya sangat banyak sekali,” kata Destry.
(Sumber: Antara)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan pidato dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta (Antara)