Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa luas Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan Vietnam dan Malaysia.
Airlangga menyebut kondisi ini dinilai menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas kawasan yang dapat mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Dijelaskan Airlangga, Vietnam dan Malaysia mengandalkan pengembangan KEK dengan luas mencapai 1,8 juta hingga 2 juta hektare. Sementara itu, luas KEK di Indonesia masih sekitar 24.000 hektare.
"Kita tahu beberapa negara seperti Vietnam dan Malaysia mengandalkan KEK, mereka luasnya 1,8 sampai 2 juta, sementara di Indonesia masih sekitar 24.000. Jadi masih punya ruang yang cukup luas untuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus," ucap Airlangga dalam konferensi pers, Rabu 21 Oktober 2026.
Baca Juga: Airlangga: Pemerintah Tidak Pernah Bahas Bagi HP Gratis ke Warga Buat Salurkan Bansos
Menurutnya, pengembangan KEK menjadi salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan investasi, memperluas lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Secara kumulatif, 25 KEK di Indonesia telah mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp382,1 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 302.000 orang.
"KEK ini dari 25 KEK investasi yang telah dicapai secara kumulatif sebesar Rp382,1 triliun dan menyerap lapangan kerja 302.000," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Airlangga juga menyoroti efisiensi investasi yang tercermin dalam Incremental Capital Output Ratio (ICOR).
Adapun indikator ini digunakan untuk mengukur kebutuhan investasi dalam menghasilkan tambahan output ekonomi. Semakin rendah ICOR, semakin efisien investasi dalam menghasilkan output.
Dia menyebut ICOR Indonesia secara nasional berada di angka 6,1. Sementara ICOR di kawasan ekonomi khusus tercatat lebih rendah 2,3.
"Jadi kalau kita mau meningkatkan ICOR, salah satunya adalah efisiensi baik di Kawasan Ekonomi Khusus maupun di kawasan industri, karena ini akan mendorong percepatan pertumbuhan," lanjutnya.
Airlangga menjelaskan, peningkatan efisiensi investasi dapat membantu Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Dengan asumsi investasi sekitar 30 persen dari produk domestik bruto (PDB) dan ICOR berada di kisaran 4, pertumbuhan ekonomi sebesar 7,5 persen dapat dicapai.
"Jadi kalau sekarang dengan investasi sekitar 30 persen dari PDB, kalau ICOR kita sekitar 4 saja, maka pertumbuhan 7,5 persen itu bisa dicapai," tegasnya.
Baca Juga: Investasi di Kawasan Ekonomi Khusus Tembus Rp336 Triliun, Serap 249 Ribu Pekerja
Selain pengembangan kawasan industri, pemerintah juga melihat potensi besar pada KEK sektor kesehatan.
Airlangga mengungkapkan pengembangan fasilitas kesehatan di dalam negeri dapat membantu mengurangi pengeluaran masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri.
Dirinya menyebut potensi pengeluaran masyarakat Indonesia untuk berobat di luar negeri mencapai sekitar Rp150 triliun.
"Beberapa sektor yang potensi termasuk kesehatan yang kita sudah punya di Bali maupun di sekitar Jakarta dan juga di Batam, ini punya potensi untuk substitusi kepada orang Indonesia yang berobat di luar negeri itu spending-nya sekitar Rp150 triliun," tegasnya.
Selain itu, Airlangga menyoroti sektor pariwisata sebagai salah satu andalan KEK.
Dia menyebut pendapatan devisa dari pariwisata mencapai sekitar USD25 miliar. Nilai tersebut hampir setara dengan kontribusi tiga komoditas ekspor utama Indonesia, yakni nikel, batu bara, dan kelapa sawit.
"Untuk sektor industri, tentu beberapa KEK sedang mempersiapkan untuk melakukan ekspansi," tutupnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa luas Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan Vietnam dan Malaysia. (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)