Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyoroti anomali tata niaga pangan nasional yang memicu ketimpangan harga tajam antara tingkat produsen dan konsumen.
Ia menegaskan, pembenahan rantai distribusi pangan menjadi prioritas mendesak agar stabilitas inflasi yang saat ini terjaga di level 3,28 persen tidak mengorbankan kesejahteraan petani maupun daya beli masyarakat.
“Alhamdulillah, saat ini petani sejahtera, inflasi terkendali. Inflasi sekarang 3,28 persen, target maksimal 3,5 persen. Namun, stabilitas inflasi harus diiringi dengan pembenahan tata niaga,” ujar Amran, dikutip 23 Oktober 2026.
Baca Juga: Mentan Amran Geram Beras Ilegal Berulang Kali Masuk RI: Ini Sudah Keterlaluan
Amran mengungkapkan bahwa ketersediaan pasokan komoditas pangan nasional saat ini berada dalam kondisi surplus. Meski demikian, melimpahnya produksi belum menjamin terciptanya harga yang adil bagi seluruh pihak akibat rantai distribusi yang tidak efisien di tingkat menengah.
“Produksi ayam kita surplus, telur surplus, beras juga surplus, bahkan sudah ada yang kita ekspor. Namun peternaknya mengeluh karena harga di tingkat mereka rendah, sementara konsumen mengeluh harga di pasar tinggi. Kalau ini terjadi, berarti ada yang tidak beres di tengahnya. Kita harus berani membenahi ini,” tegas Mentan.
Ia memberikan gambaran nyata pada komoditas daging ayam, di mana harga di tingkat peternak berada di kisaran Rp 21.000 per kilogram, tetapi melonjak hingga sekitar Rp 46.000 per kilogram saat sampai di tangan konsumen. Kesenjangan harga yang mencapai lebih dari dua kali lipat tersebut mendasari langkah Kementan untuk memperketat pengawasan tata niaga.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kementerian Pertanian telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum guna menindaklanjuti indikasi praktik perdagangan yang merugikan produsen dan konsumen. Selain penegakan hukum, pemerintah mendorong pemangkasan rantai pasok yang tidak efisien melalui penguatan peran koperasi serta pembangunan sarana prasarana modern seperti fasilitas penyimpanan dingin (cold storage).
Baca Juga: Kapolri, Dirjen Bea Cukai dan BNN Ungkap Penindakan 1,16 Ton Ketamin di Perairan Sumut
Keberadaan cold storage dan optimalisasi koperasi dinilai efektif untuk menyerap hasil panen raya komoditas hortikultura dan peternakan seperti cabai, tomat, telur, dan ayam sehingga harga produsen tidak anjlok saat pasokan berlebih.
“Ketika produksi melimpah, kita harus bisa mengelola pasokan. Kalau produksi berkurang, stok yang tersedia bisa dikeluarkan. Dengan begitu, petani terlindungi dan konsumen mendapatkan harga yang lebih wajar,” jelasnya.
Di samping tantangan tata niaga, Mentan mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi tantangan iklim global yang kian dinamis. Setelah melawati fenomena El Nino pada 2025 dan 2026, Indonesia diproyeksikan akan berhadapan dengan fenomena La Nina pada tahun mendatang.
"2025 kita menghadapi El Nino. Sekarang El Nino, tahun depan juga ada La Nina. Kita sudah terlatih menghadapi kondisi seperti itu,” tuturnya optimis.
Sebagai langkah antisipasi, Kementan terus memperkuat peta produksi pangan regional, khususnya di kawasan timur Indonesia meliputi Sulawesi, Maluku, dan Papua, untuk meminimalkan ketergantungan distribusi antardaerah. Penguatan produksi ini tak hanya berfokus pada keberlanjutan swasembada beras, melainkan juga komoditas strategis lain seperti ayam, telur, bawang merah, dan gula konsumsi.
“Tujuan kita bukan membuat harga petani jatuh supaya konsumen murah. Tujuan kita adalah petani mendapat harga yang layak, konsumen membeli dengan harga yang wajar, dan mata rantai yang tidak efisien kita pangkas. Insya Allah, swasembada pangan beras berkelanjutan,” pungkas Amran.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (tengah) didampingi Wakil Menteri Pertanian Sudaryono (kiri) menyampaikan keterangan terkait capaian kinerja satu tahun Kementerian Pertanian di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (22/10/2025). Pencapaia (ANTARA)