Insentif Mobil Hybrid Masih Digodok, Pemerintah Targetkan Pengajuan Tahun Ini

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Okt 2026, 12:35
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyampaikan bahwa pemerintah tengah melakukan pembahasan teknis mengenai usulan insentif bagi kendaraan hybrid. 

Ia menyebut usulan tersebut ditargetkan dapat disampaikan tahun ini, sementara besaran dan mekanismenya masih akan diperjelas melalui pembahasan dengan kementerian terkait.

"Kami sudah mulai melakukan pembahasan teknis dengan kementerian terkait. Besaran insentif yang akan diusulkan masih dalam proses kajian. Industri juga tidak meminta insentif yang sama dengan kendaraan listrik berbasis baterai, tetapi berharap tetap ada dukungan insentif," ucap Sarmuji seusai bertemu jajaran direksi Toyota Astra Motor (TAM) dan Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Ia menyebut Kebijakan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu stimulus untuk memperkuat pasar otomotif nasional.

Baca juga: Usul Menperin: Mobil Hybrid Bebas Ganjil Genap dan Dapat Keringanan Pajak

Di sisi lain, Sarmuji meminta Toyota Indonesia mempercepat pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) di Indonesia.

"Kami mendorong Toyota Indonesia untuk lebih fokus mengembangkan kendaraan listrik. Saat ini kendaraan hybrid sudah berjalan, bahkan Toyota telah memiliki fasilitas produksi baterai hybrid yang produknya diekspor. Namun, kami meminta agar pengembangannya tidak berhenti pada hybrid, melainkan terus melangkah ke kendaraan listrik berbasis baterai," tegas Sarmuji.

Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto menyebut Toyota telah memproduksi model BEV bZ4X di Indonesia dan tengah menyiapkan model BEV lain yang sesuai dengan kebutuhan pasar domestik.

Sarmuji juga mendorong Toyota meningkatkan ekspor, baik dari sisi volume, variasi model, maupun negara tujuan. Salah satu pasar yang disorot adalah Australia.

"Australia masih banyak mendapatkan pasokan kendaraan dari negara tetangga, padahal secara geografis Indonesia lebih dekat. Kita juga sudah memiliki perjanjian kerja sama ekonomi dengan Australia yang seharusnya dapat meningkatkan daya saing produk otomotif Indonesia," ungkapnya.

Baca juga: Jetour Perkuat Inovasi Global, Andalkan Teknologi 4WD hingga Super Hybrid

Ia secara khusus menyoroti peluang produksi kendaraan double cabin untuk memenuhi kebutuhan pasar Australia. 

"Kami menyarankan agar kendaraan double cabin juga dapat diproduksi di Indonesia. Kalau memang diperlukan perbaikan ekosistem industrinya, pemerintah siap mendukung agar peluang ekspor tersebut bisa dimanfaatkan," katanya.

Sementara itu, Nandi mengatakan ekspor Toyota tahun ini meningkat. Perusahaan akan terus berupaya meningkatkan ekspor, baik dari sisi jumlah kendaraan, model, maupun negara tujuan.

x|close