Menko Bahlil: Rencana Impor Minyak 30 Juta Barel dari UEA Masih Penjajakan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Okt 2026, 16:47
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara terkait rencana pasokan minyak hingga 30 juta barel dari Uni Emirat Arab (UEA). Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara terkait rencana pasokan minyak hingga 30 juta barel dari Uni Emirat Arab (UEA). (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara terkait rencana pasokan minyak hingga 30 juta barel dari Uni Emirat Arab (UEA).

Hal tersebut disampaikan Bahlil menyusul informasi dari Kepala SKK Migas Djoko Siswanto yang sebelumnya menyebut Indonesia akan menerima pasokan minyak dari UEA tanpa biaya pengiriman maupun kapal.

Bahlil menegaskan, rencana pasokan minyak tersebut masih dalam tahap penjajakan lebih lanjut.

"Itu masih potensi ya. Belum saya melakukan itu penjajakan-penjajakan, semuanya masih penjajakan ya," ucap Bahlil Rabu 28 Oktober 2026.

Baca Juga: Bahlil Setuju Ekspor LNG ke BP-Shell Singapura di Tengah Pemangkasan Gas

Sebelumnya, Djoko Siswanto atau yang akrab disapa Djoksis itu mengungkapkan bahwa pemerintah UEA berencana mengirimkan minyak hingga 30 juta barel ke Indonesia. 

Informasi tersebut diperoleh dalam pertemuan Bahlil dengan Duta Besar Abu Dhabi dan Presiden Direktur Mubadala pada Selasa 27 Oktober 2026 kemarin.

"Duta Besar Abu Dhabi menyampaikan bahwa pemerintah Uni Emirat Arab segera akan mengirim minyaknya ke Indonesia sampai dengan 30 juta barel," ungkap Djoko.

Ia menegaskan pasokan minyak tersebut tidak membutuhkan biaya modal kerja atau working capital dari Indonesia.

Baca Juga: Menko Bahlil Ungkap Dugaan Tambang di Lahan Sawit

Selain itu, biaya pengangkutan menggunakan kapal juga diklaim tidak akan dibebankan kepada Indonesia.

"Tanpa biaya, tanpa working capital, termasuk free kapalnya. Ini suatu kabar yang bagus juga buat kita," tutupnya.