Ahli Beberkan Penyebab Gempa di Myanmar Bisa Sangat Mematikan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Apr 2025, 09:24
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Foto yang diambil pada 29 Maret 2025 ini menunjukkan bangunan yang rusak setelah gempa bumi di Mandalay, Myanmar. (Foto: Myo Kyaw Soe/Xinhua) Foto yang diambil pada 29 Maret 2025 ini menunjukkan bangunan yang rusak setelah gempa bumi di Mandalay, Myanmar. (Foto: Myo Kyaw Soe/Xinhua)

Ntvnews.id, Jakarta - Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di wilayah Sagaing, dekat kota Mandalay, Myanmar, menyebabkan kehancuran besar di negara tersebut dan turut mengguncang Thailand pada Jumat, 18 Marfet 2025,

Myanmar terletak di perbatasan dua lempeng tektonik dan merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas seismik tertinggi di dunia. Meski demikian, gempa besar dan merusak jarang terjadi di Sagaing.

"Perbatasan antara Lempeng India dan Lempeng Eurasia membentang dari utara ke selatan, membelah bagian tengah Myanmar," jelas Joanna Faure Walker, profesor sekaligus pakar gempa dari University College London (UCL), dikutip dari Reuters, Rabu, 2 April 2025.

Ia menambahkan bahwa pergerakan lempeng-lempeng tersebut terjadi secara horizontal dengan kecepatan berbeda. Meskipun gempa tipe strike-slip biasanya tidak sekuat gempa di zona subduksi—seperti di Pulau Sumatra, di mana satu lempeng bergerak di bawah lempeng lainnya—guncangan akibat gempa ini tetap bisa mencapai magnitudo 7 hingga 8.

Baca Juga: Gempa Bumi 6,3 Magnitudo Guncang Maluku

Dalam beberapa tahun terakhir, Sagaing telah mengalami beberapa gempa, termasuk gempa berkekuatan 6,8 pada akhir 2012 yang menewaskan sedikitnya 26 orang dan melukai puluhan lainnya.

Namun, menurut Bill McGuire, pakar gempa dari UCL, gempa pada Jumat, 28 Maret 2025 kemungkinan menjadi yang terbesar yang pernah terjadi di daratan Myanmar dalam lebih dari 75 tahun.

Roger Musson, peneliti kehormatan di British Geological Survey, menuturkan bahwa gempa yang terjadi pada kedalaman dangkal menyebabkan tingkat kerusakan yang lebih besar. United States Geological Survey (USGS) melaporkan bahwa episentrum gempa berada pada kedalaman hanya 10 km.

“Gempa ini sangat merusak karena terjadi di kedalaman yang dangkal, sehingga gelombang kejutnya tidak banyak berkurang saat bergerak ke permukaan. Akibatnya, bangunan menerima dampak guncangan sepenuhnya," jelas Musson.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa episentrum bukan satu-satunya titik yang harus diperhatikan, karena gelombang seismik menyebar dari seluruh garis patahan, bukan hanya dari titik pusat gempa.

Baca Juga: Kemlu RI: Belum Ada Laporan WNI Terdampak Gempa Myanmar-Thailand

USGS dalam Program Bahaya Gempa Bumi memperkirakan bahwa jumlah korban jiwa akibat gempa ini bisa berkisar antara 10.000 hingga 100.000 orang, sementara dampak ekonominya diprediksi mencapai 70% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Myanmar.

Musson menjelaskan bahwa perkiraan tersebut didasarkan pada data gempa sebelumnya serta mempertimbangkan ukuran, lokasi, dan kesiapan Myanmar dalam menghadapi bencana ini.

Karena gempa besar jarang terjadi di Sagaing, yang berdekatan dengan Mandalay—kota dengan populasi tinggi—banyak infrastruktur yang belum dirancang untuk menahan guncangan sekuat ini, sehingga tingkat kerusakan bisa jauh lebih besar.

Menurut Musson, gempa besar terakhir yang melanda wilayah tersebut terjadi pada tahun 1956, sehingga sebagian besar bangunan tidak dibangun dengan standar tahan gempa yang memadai.

"Sebagian besar aktivitas seismik di Myanmar biasanya terjadi di bagian barat, sedangkan gempa ini mengguncang wilayah tengah negara," tambahnya.

x|close