Menteri Bahlil: Lifting Minyak 2025 Tembus Target APBN

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Jan 2026, 15:32
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi paparan dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026. (ANTARA/Putu Indah Savitri) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi paparan dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026. (ANTARA/Putu Indah Savitri) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa kinerja lifting minyak bumi nasional sepanjang tahun 2025 berhasil melampaui target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Rata-rata lifting minyak tercatat sebesar 605,3 ribu barel minyak per hari (MBOPD), atau mencapai 100,5 persen dari target APBN sebesar 605 MBOPD.

“Target kita di APBN, lifting itu 605 MBOPD. Alhamdulillah mencapai target, bahkan melampaui sekalipun sedikit,” ucap Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.

Capaian lifting minyak tersebut telah mencakup produksi Natural Gas Liquid (NGL) serta kondensat yang dihasilkan oleh PT Donggi Senoro LNG.

Bahlil menuturkan, dalam hampir satu dekade terakhir, realisasi lifting minyak bumi nasional kerap tidak memenuhi target APBN. Pemerintah terakhir kali mencatat peningkatan produksi minyak dan gas bumi pada tahun 2016.

“Setelah itu, tidak pernah lagi lifting kita mencapai target. Alhamdulillah kali ini kita tercapai,” kata Bahlil.

Baca Juga: Bahlil Laporkan Capaian Lifting Minyak dan Elektrifikasi Desa kepada Prabowo dalam Retret Hambalang

Sementara itu, kinerja lifting gas bumi sepanjang tahun 2025 tercatat masih berada di bawah target APBN. Kementerian ESDM mencatat rata-rata lifting gas bumi mencapai 951,8 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD), lebih rendah dibandingkan target APBN 2025 sebesar 1.005 MBOEPD.

Angka lifting gas bumi tersebut tidak memasukkan komponen NGL karena telah diklasifikasikan sebagai bagian dari lifting minyak bumi.

Meski realisasi lifting gas belum sesuai target, Bahlil menyampaikan bahwa Indonesia tidak melakukan impor Liquefied Natural Gas (LNG) sepanjang tahun 2025. Padahal, pada awal tahun sempat muncul rencana impor LNG sebanyak 40 hingga 50 kargo akibat dinamika pasokan dan permintaan.

Baca Juga: Bahlil Ungkap Arahan Prabowo di Retret Hambalang

Menurut Bahlil, potensi defisit LNG dipicu oleh meningkatnya kebutuhan gas dalam negeri yang melampaui proyeksi awal pemerintah. Pada saat yang sama, pengelola wilayah kerja (WK) gas bumi penghasil LNG telah lebih dulu mengikat kontrak ekspor.

Kontrak ekspor tersebut disepakati karena pada tahap perencanaan pengembangan atau plan of development (POD), pengelola WK diwajibkan memastikan kepastian pasar LNG. Pada fase tersebut, pasar domestik belum mampu menyerap seluruh LNG yang diproduksi.

Untuk menyeimbangkan kepentingan ekspor dan kebutuhan dalam negeri, pemerintah memutuskan menunda pengiriman sejumlah kargo LNG ke tahun 2026 agar pasokan domestik tetap terjaga. Kebijakan ini membuat Indonesia tidak perlu mengimpor LNG sepanjang 2025.

“Tapi berkat kerja keras kita semua, di tahun 2025 tidak ada kita melakukan impor gas,” ujar Bahlil.

(Sumber: Antara) 

x|close