Bahlil Targetkan Impor Avtur Dihentikan Mulai 2027

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Jan 2026, 06:58
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Bahlil Lahadalia Bahlil Lahadalia

Ntvnews.id, Balikpapan - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan rencana pemerintah untuk menghentikan impor avtur mulai tahun 2027. Ke depan, Indonesia hanya akan melakukan impor minyak mentah sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional.

“Avtur juga 2027, insya Allah tidak lagi kita melakukan impor. Ke depan, kami akan dorong atas perintah Pak Presiden, kita hanya mengimpor crude (minyak mentah) saja,” ujar Bahlil dalam peresmian proyek RDMP Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur, Senin, 12 Januari 2026.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah bertahap pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi, sehingga ketergantungan terhadap impor produk energi olahan dapat terus ditekan.

Sebelumnya, Bahlil juga menyampaikan bahwa Indonesia akan menghentikan impor solar pada 2026, khususnya untuk jenis CN48. Adapun untuk menekan impor solar CN51, ia telah menginstruksikan Pertamina agar mulai membangun fasilitas pendukung pada semester II 2026.

Baca Juga: Dampingi Prabowo Resmikan RDMP, AHY: Tonggak Kemandirian Energi Nasional

“Kalau ini mampu kita lakukan maka gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis dan setelah ini pasti ramai di media sosial karena dianggap Menteri ESDM potong-potong jalur para importir,” ucapnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil dalam rangka peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) atau revitalisasi Kilang Balikpapan oleh Presiden Prabowo Subianto. Proyek RDMP Balikpapan memiliki nilai investasi sekitar 7,4 miliar dolar AS atau setara Rp124,79 triliun.

Prabowo Subianto <b>(Istimewa)</b> Prabowo Subianto (Istimewa)

Melalui pengembangan RDMP, kapasitas produksi bahan bakar minyak (BBM) meningkat dari sebelumnya 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari dengan standar setara Euro V. Selain itu, Indeks Kompleksitas Kilang meningkat dari 3,7 menjadi 8, sementara persentase nilai produk naik menjadi 91,8 persen dari sebelumnya 75,3 persen.

Pengembangan Kilang Balikpapan dinilai sebagai langkah strategis untuk mewujudkan swasembada energi sesuai program Astacita, sehingga Indonesia tidak lagi bergantung pada impor BBM dan liquefied petroleum gas (LPG) untuk kebutuhan domestik.

“Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, maka kita dapat mengurangi ketergantungan impor BBM dan LPG, serta dapat menghasilkan produk dengan kualitas setara EURO V yang tentunya lebih ramah lingkungan," ujar Bahlil.

x|close