Danantara Targetkan Groundbreaking Proyek DME Februari 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Jan 2026, 16:28
thumbnail-author
Okky Tri Nugroho
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) Dony Oskaria memberi keterangan ketika ditemui setelah acara “Danantara: Menggerakkan Raksasa, Menyalakan Mesin Ekonomi Indonesia” yang digelar di Jakarta, Rabu (28/1/2026). Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) Dony Oskaria memberi keterangan ketika ditemui setelah acara “Danantara: Menggerakkan Raksasa, Menyalakan Mesin Ekonomi Indonesia” yang digelar di Jakarta, Rabu (28/1/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) Dony Oskaria mengungkapkan bahwa peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) direncanakan berlangsung pada akhir Januari atau awal Februari 2026.

“Targetnya akhir Januari atau awal Februari, lokasinya di PT Bukit Asam (PTBA),” ujar Dony usai menghadiri acara Danantara: Menggerakkan Raksasa, Menyalakan Mesin Ekonomi Indonesia di Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.

Menurut Dony, proyek konversi batu bara menjadi DME merupakan langkah strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gas elpiji (LPG). Selama ini, kebutuhan LPG dalam negeri masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Ia mengakui rencana penggantian LPG dengan DME menuai berbagai kritik, terutama terkait aspek keekonomian. Namun, Dony menilai penilaian tersebut tidak bisa dilakukan secara parsial.

“Banyak yang mempertanyakan apakah secara ekonomi DME menguntungkan atau tidak. Tapi ini tidak bisa dilihat secara terpisah, harus dikaji dampaknya secara menyeluruh,” kata Dony.

Ia menambahkan, impor LPG selama ini membebani negara, baik dari sisi penggunaan devisa maupun besarnya anggaran subsidi agar harga LPG tetap terjangkau masyarakat.

“Dengan pertimbangan itulah, proyek DME ini kami dorong dan akan segera dilakukan groundbreaking,” ujarnya.

Baca juga: Indef Optimis Danantara Jadi Instrumen Kunci Pertumbuhan Berkelanjutan

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan kebutuhan LPG nasional pada 2026 mencapai sekitar 10 juta metrik ton. Di sisi lain, kapasitas produksi dalam negeri baru berada di kisaran 1,3 hingga 1,4 juta metrik ton per tahun.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut selisih antara kebutuhan dan produksi tersebut menyebabkan defisit LPG sekitar 8,6 juta metrik ton yang harus ditutup melalui impor.

Atas kondisi tersebut, Kementerian ESDM menilai proyek DME menjadi krusial dan juga tengah mengkaji kemungkinan pengalihan sebagian subsidi LPG untuk mendukung pemanfaatan dimetil eter sebagai alternatif energi rumah tangga.

(Sumber: Antara)

Sumber Antara

x|close