Ntvnews.id, Jakarta - CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani menargetkan proses pemangkasan jumlah badan usaha milik negara (BUMN) dapat diselesaikan pada 2026. Target tersebut disampaikan dalam pembahasan bersama Komisi VI DPR RI.
“Tadi kami menyampaikan rencana tahun 2026, termasuk juga penyesuaian dari jumlah BUMN,” ujar Rosan ketika ditemui seusai rapat dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.
Rosan mengungkapkan, dalam rapat tertutup yang berlangsung kurang dari dua jam tersebut, pihaknya membahas berbagai langkah yang akan ditempuh dalam rangka penyesuaian jumlah BUMN. Selain itu, turut dibahas program-program Danantara sepanjang 2026 serta proyek-proyek yang direncanakan untuk dieksekusi pada tahun yang sama.
“Juga bagaimana rencana untuk mencapai target dari 2026, lebih-lebih seperti itu,” ujar Rosan.
Secara terpisah, Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria menjelaskan bahwa pada 2025 pihaknya telah melakukan impairment atau penurunan nilai tercatat aset yang melebihi nilai yang dapat dipulihkan.
Baca Juga: Bos Danantara Sentil Bank BUMN, Minta Bandingkan dengan Perbankan Global
Kepala Badan Pengatur BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria/ist
“Setelah rapi buku-bukunya, bisnisnya kami restrukturisasi, termasuk penurunan utang-utangnya,” tutur Dony.
Menurut Dony, setelah proses tersebut rampung, Danantara akan memasuki fase konsolidasi bisnis melalui merger BUMN. BUMN yang dilebur merupakan entitas yang dinilai tidak efektif, baik karena skala usaha yang terlalu kecil maupun karena terus mengalami kerugian.
“Misalkan, kita punya air minum, kita punya travel agent kecil, ya buat apaan? Logistik, tetapi kecil skalanya. Nah, itu yang kami pangkas, terus yang selama ini juga rugi,” ucap Dony.
Meski demikian, ia menegaskan Danantara tetap membuka peluang pembentukan atau penambahan BUMN baru apabila terdapat potensi industri besar yang belum memiliki entitas BUMN.
“Namanya industri berkembang, tentu kita juga harus mengikuti,” kata Dony.
Baca Juga: Siap-siap! 15 BUMN Asuransi Bakal Digabung Jadi 3 Perusahaan
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan optimisme bahwa pengurangan jumlah BUMN dari sekitar 1.000 menjadi kurang lebih 200 entitas usaha dapat meningkatkan rasio profitabilitas, khususnya perbandingan laba terhadap total aset atau Return of Asset (RoA).
Dalam sesi talkshow pada Grand Finale Dinner Forbes Global CEO Conference di Jakarta, Rabu malam, 15 Oktober 2025, Presiden mengatakan telah memberikan arahan kepada CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani untuk melaksanakan rasionalisasi tersebut.
Selain itu, Presiden juga meminta manajemen Danantara Indonesia mengelola BUMN dengan standar bisnis internasional, termasuk merekrut talenta terbaik dari dalam maupun luar negeri. Langkah tersebut dinilai penting agar pengelolaan BUMN menjadi lebih efisien, transparan, dan memiliki daya saing global.
(Sumber: Antara)
CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani memberi keterangan ketika dijumpai selepas rapat dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026. ANTARA/Putu Indah Savitri/pri. (Antara)