Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan badan usaha pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta akan mulai menggunakan solar dalam negeri yang dibeli dari Pertamina pada April 2026.
“Iya (sudah memesan solar dari Pertamina). Nanti rencananya April sudah harus menggunakan solar dalam negeri,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman saat dijumpai di Kementerian ESDM Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.
Laode menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan sejumlah pertemuan dengan badan usaha pengelola SPBU swasta dan Pertamina untuk membahas mekanisme pembelian solar. Beberapa hal yang menjadi perhatian selama masa transisi antara lain penyediaan loading port atau pelabuhan muat yang memadai, kargo yang disesuaikan dengan volume pesanan, serta spesifikasi bahan bakar murni atau base fuel solar yang sesuai permintaan badan usaha.
Berbagai poin tersebut dibahas dalam pertemuan sebagai langkah mitigasi agar pada April tidak terjadi krisis terkait pembelian solar dalam negeri.
“Spek solar harus dibahas, kalau tidak nanti terjadi seperti tahun lalu, soal base fuel (bahan bakar murni),” ujar Laode.
Baca Juga: Izin Impor BBM Shell Masih Dievaluasi Kementerian ESDM
Kejadian yang dimaksud adalah penolakan Vivo terhadap base fuel untuk BBM jenis bensin yang diimpor Pertamina pada akhir tahun 2025 karena mengandung etanol. Masalah itu berhasil diatasi sehingga Vivo membeli BBM jenis bensin dari Pertamina pada kuartal akhir 2025 untuk mendukung operasional SPBU.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan pihaknya akan menghentikan impor solar untuk SPBU swasta pada 2026. Apabila masih ada kargo solar masuk pada Januari atau Februari, itu merupakan sisa impor tahun 2025.
“Tetapi tahun ini, Kementerian ESDM atas perintah Bapak Presiden Prabowo Subianto, karena kita punya kilang sudah ada, kita tidak lagi mengeluarkan impor,” ujar Bahlil.
Kilang yang dimaksud adalah proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Refinery Unit V Balikpapan, Kalimantan Timur. Kilang ini memiliki kapasitas hingga 360 ribu barel per hari, setara 22–25 persen dari kebutuhan nasional.
Baca Juga: Ikuti Pertamina dan Shell, Harga BBM BP Turun per Februari
Secara ekonomi, RDMP Balikpapan diyakini akan meningkatkan kemandirian energi nasional, menghemat impor BBM hingga Rp68 triliun per tahun, dan berkontribusi terhadap PDB nasional sebesar Rp514 triliun.
Ketika ditanya soal SPBU swasta yang akan membeli solar dari Pertamina, Bahlil menegaskan hal tersebut akan dilakukan sesuai rencana.
(Sumber: Antara)
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman memberi keterangan ketika dijumpai di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026. ANTARA/Putu Indah Savitri (Antara)