Ahli Nilai Tarif 0 Persen AS Untungkan Industri Tekstil Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Feb 2026, 20:15
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal saat menghadiri Gambir Trade Talk di Jakarta, Selasa, 19 Februari 2024. ANTARA/Maria Cicilia Galuh/aa. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal saat menghadiri Gambir Trade Talk di Jakarta, Selasa, 19 Februari 2024. ANTARA/Maria Cicilia Galuh/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai kebijakan tarif nol persen dari Amerika Serikat (AS) terhadap produk tekstil dan pakaian jadi asal Indonesia akan menjadi dorongan besar bagi industri yang berorientasi ekspor.

“Industri tekstil yang berorientasi ekspor ke Amerika pasti akan diuntungkan. Pangsa pasar ekspor kita ke Amerika Serikat itu lebih dari 60 persen, sehingga kondisi akan lebih baik dengan adanya tarif nol,” ujar Faisal saat dihubungi di Jakarta, Jumat, 20 Februari 2026.

Ia menjelaskan sekitar 50 persen produksi tekstil nasional dialokasikan untuk pasar ekspor, dengan sebagian besar ditujukan ke Amerika Serikat. Dengan dihapuskannya bea masuk dalam skema tertentu, daya saing produk tekstil Indonesia di pasar global diperkirakan semakin menguat.

Meski demikian, Faisal mengingatkan keuntungan tersebut tidak serta-merta dirasakan seluruh pelaku industri.

“Kalau untuk yang tidak ekspor ke Amerika tetap tidak ada berubah … Yang akan membantu mereka adalah kebijakan untuk mengendalikan produk impor dari China,” katanya.

Ia menyoroti lonjakan impor pakaian murah dari China sepanjang 2025 yang menekan pasar dalam negeri. Kondisi tersebut, menurutnya, memicu penurunan produksi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah pabrik.

Baca Juga: Tarif Trump Wajibkan RI Impor Minyak AS, Bagaimana Nasib Kemandirian Energi?

“Banyak pabrik tutup karena pasar domestiknya tergerus oleh impor yang jauh lebih murah, terutama dari China,” jelasnya.

Faisal menambahkan derasnya arus produk tekstil China ke Indonesia juga merupakan efek lanjutan dari kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap barang-barang asal China.

“Produk-produk China yang tidak masuk ke pasar Amerika tentu saja akan mencari jalan ke negara lain. Indonesia menjadi salah satu pasar yang paling mudah dimasuki karena hambatan perdagangannya relatif terbatas,” ujarnya.

Dalam pandangannya, penguatan kebijakan pengendalian impor menjadi langkah krusial untuk melindungi industri tekstil yang menyasar pasar domestik. Sementara itu, fasilitas tarif nol persen di Amerika Serikat dinilai sebagai angin segar bagi eksportir nasional.

Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat sebelumnya menyepakati penghapusan tarif bea masuk hingga nol persen bagi produk tekstil dan garmen (apparel) Indonesia melalui mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ). Kesepakatan tersebut ditandatangani pada Kamis, 19 Februari 2026 waktu Washington.

Baca Juga: Prabowo Teken Tarif Trump, Gedung Putih Sebut Era Keemasan Indonesia-Amerika

Melalui skema TRQ, sejumlah kuota tertentu produk tekstil dan garmen Indonesia dapat masuk ke pasar Amerika Serikat dengan tarif nol persen. Besaran kuota ditentukan berdasarkan volume bahan baku tekstil yang diimpor Indonesia dari Amerika Serikat, seperti kapas dan serat buatan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kebijakan tersebut berdampak luas bagi tenaga kerja nasional.

“Tentunya ini memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini, dan kalau kita hitung dengan keluarga, ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia,” ujarnya dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Jumat, 20 Februari 2026.

Selain tekstil dan garmen, sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia turut memperoleh fasilitas pembebasan bea masuk hingga nol persen. Produk tersebut mencakup minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, hingga komponen pesawat terbang.

(Sumber: Antara) 

x|close