Ntvnews.id, Washington D.C - Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menilai kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) akan memperkokoh ketahanan energi nasional, terutama melalui peningkatan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dari Negeri Paman Sam.
Simon mengungkapkan selama ini porsi impor LPG Pertamina dari AS sudah cukup besar, yakni sekitar 57 persen dari total kebutuhan. Dengan adanya kesepakatan dagang terbaru, porsi tersebut diproyeksikan meningkat signifikan. “Dengan adanya kesepakatan dagang ini, tentunya kita akan bisa meningkatkan, bisa sampai ke 70 persen,” ucapnya dalam konferensi pers virtual dari Washington D.C., Jumat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor LPG Indonesia pada 2024 tercatat sekitar 3,8 miliar dolar AS atau setara Rp64,1 triliun (kurs Rp16.888 per dolar AS). Dari total tersebut, impor dari AS mendominasi dengan nilai sekitar 2,03 miliar dolar AS atau setara Rp34,3 triliun, mencakup sekitar 53 persen dari total impor atau sekitar 3,94 juta ton.
Sementara itu, Qatar menjadi pemasok terbesar kedua dengan nilai sekitar 0,4 miliar dolar AS atau Rp6,7 triliun (11 persen), disusul Uni Emirat Arab (UEA) dengan nilai sekitar 0,39 miliar dolar AS atau Rp6,6 triliun (10 persen).
Baca Juga: Pemerintah Tekankan Kebijakan Bioetanol Sebagai Upaya Akselerasi Kedaulatan Energi Nasional
Selain LPG, Simon juga menyatakan Pertamina akan mendorong peningkatan impor minyak mentah dari AS. Untuk produk olahan minyak, Pertamina masih akan melakukan penjajakan kerja sama dengan mitra-mitra di Amerika Serikat.
Ia menambahkan, rencana impor energi senilai 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp253,3 triliun dari AS merupakan bagian dari strategi diversifikasi sumber energi guna menjamin pasokan dengan harga yang kompetitif.
“Selain sumber dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika, kita juga melihat peluang besar dari Amerika Serikat,” katanya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. (Istimewa)
Simon menegaskan seluruh proses impor akan tetap dilakukan melalui mekanisme tender dan bidding secara terbuka, bukan penunjukan langsung, demi menjaga transparansi dan akuntabilitas.
Ia juga menekankan kesepakatan dagang ini merupakan solusi yang menguntungkan kedua negara, dengan tetap menghormati regulasi masing-masing pihak.
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa Ramadhan Sabtu 21 Februari 2026
“Dalam 90 hari ke depan kita menunggu finalisasi, dengan dukungan pemerintah berupa keputusan dan perizinan. Semua dilakukan sesuai prosedur dan aturan yang berlaku,” katanya.
Sebagai informasi, pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat pada Kamis, 19 Februari 2026 telah menandatangani poin-poin kesepakatan perjanjian tarif resiprokal. Salah satu poin utama kesepakatan tersebut mencakup pembelian komoditas energi dari AS senilai total 15 miliar dolar AS, yang terdiri dari pembelian LPG sebesar 3,5 miliar dolar AS, minyak mentah sebesar 4,5 miliar dolar AS, serta bensin hasil kilang senilai 7 miliar dolar AS.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri (Sekretariat Presiden)