Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor crude palm oil (CPO) dan turunannya pada periode Januari–Februari 2026 sebesar USD4,69 miliar.
Adapun angka tersebut terjadi peningkatan signifikan sebesar 26,40 persen secara kumulatif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan perkembangan kinerja ekspor komoditas unggulan pada awal tahun 2026.
“Kinerja ekspor komoditas unggulan selama bulan Januari-Februari tahun 2026, antara lain nilai ekspor CPO dan turunannya naik cukup tinggi yaitu sebesar 26,40 persen secara kumulatif,” kata Ateng.
Baca juga: SDM Berkualitas Dinilai Jadi Fondasi Industri Sawit Berkelanjutan
Secara rinci, nilai ekspor CPO dan turunannya pada Januari–Februari 2026 tercatat sebesar USD4,69 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar USD3,71 miliar.
Dari sisi volume, ekspor CPO dan turunannya juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dari 3,33 juta ton pada Januari–Februari 2025 menjadi 4,54 juta ton pada periode yang sama tahun 2026.
Peningkatan ekspor CPO dan turunannya ini turut berkontribusi terhadap kinerja ekspor nonmigas Indonesia yang secara keseluruhan mencatatkan pertumbuhan positif.
“Ekspor nonmigas tercatat naik sebesar 2,82 persen (year on year) dengan nilai sebesar USD42,35 miliar,” jelasnya.
Ateng menambahkan bahwa sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekspor nonmigas, termasuk dari komoditas berbasis sawit.
“Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor nonmigas sepanjang Januari sampai dengan Februari tahun 2026 dengan andilnya sebesar 5,36 persen,” ucapnya.
Selain CPO dan turunannya, peningkatan ekspor industri pengolahan juga didorong oleh komoditas lain seperti nikel, kendaraan bermotor roda empat atau lebih, semikonduktor dan komponen elektronik, serta kimia dasar organik berbasis hasil pertanian.
Sementara itu, dari sisi sektoral, kontribusi ekspor nonmigas pada Februari 2026 didominasi oleh industri pengolahan sebesar USD18,55 miliar, diikuti sektor pertambangan dan lainnya sebesar USD2,15 miliar, serta sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan sebesar USD0,39 miliar.
“Pada bulan Februari tahun 2026 total ekspor nonmigas sebesar USD21,09 miliar dan jika dirinci menurut sektornya, pertanian, perikanan, dan kehutanan berkontribusi sebesar USD0,39 miliar. Sektor pertambangan dan lainnya USD2,15 miliar dan industri pengolahan sebesar USD18,55 miliar,” paparnya.
Baca juga: GAPKI Dorong Industri Sawit Wujudkan Kesetaraan bagi Perempuan Pekerja
Dengan kinerja tersebut, CPO dan produk turunannya kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu komoditas unggulan yang menopang pertumbuhan ekspor Indonesia di awal tahun 2026.
Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa peningkatan ekspor CPO dan turunannya tidak terlepas dari upaya penguatan hilirisasi sektor pertanian yang terus didorong pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah produk.
“Kalau CPO kita olah menjadi margarin, kosmetik, dan produk turunan lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia. Kita kuasai lebih dari 60 persen pasar dunia. Artinya Indonesia sangat menentukan. Dan ini harus terus kita dorong hilirisasinya," ungkap Mentan Amran.
Ilustrasi: Petani mengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit seusai panen. ANTARA/Syifa Yulinnas (Antara)