Inovasi MOF BRIN, Tabung Gas Lebih Ringan dan Aman untuk Energi Nasional

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Apr 2026, 13:20
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - CubiTan, teknologi material maju penyimpanan gas metana berbasis Metal-Organic Frameworks (MOF) sebagai pensubstitusi tabung gas LPG yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). ANTARA/HO-BRIN Ilustrasi - CubiTan, teknologi material maju penyimpanan gas metana berbasis Metal-Organic Frameworks (MOF) sebagai pensubstitusi tabung gas LPG yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). ANTARA/HO-BRIN (Antara)

Ntvnews.id , Jakarta -  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi material maju untuk penyimpanan gas metana berbasis Metal-Organic Frameworks (MOF) sebagai alternatif pengganti tabung LPG, dalam upaya memperkuat ketahanan energi nasional.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Canggih Setya Budi, menjelaskan bahwa inovasi bernama CubiTan merupakan hasil kerja sama internasional dengan Yachiyo Engineering dan Atomis dari Jepang.

“CubiTan ini merupakan sistem gas yang terbuat dari High-Pressure Gas Cylinder Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP), di dalamnya terdapat gas adsorben MOF. Dilengkapi juga dengan sistem komunikasi ACNWI, sensor temperatur, sensor tekanan (pressure shock), serta wireless,” kata Canggih dalam keterangan di Jakarta, Selasa, 21 April 2026.

Ia menjelaskan, CubiTan memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan tabung LPG konvensional.

Baca Juga:  BRIN Dorong Penyetaraan Diaspora untuk Perkuat Riset Nasional

Dari sisi bobot, tabung ini hanya sekitar 11,7 kilogram, jauh lebih ringan dibandingkan tabung biasa yang mencapai 30,5 kilogram, dengan kapasitas penyimpanan gas yang tetap kompetitif.

Selain itu, sistem ini dapat dioperasikan pada tekanan lebih rendah sehingga meningkatkan tingkat keamanan dalam penggunaan sehari-hari.

Canggih juga menyebutkan bahwa pemanfaatan MOF dalam CubiTan mampu meningkatkan kapasitas penyimpanan gas hingga 1,5 sampai 2 kali lipat dibandingkan teknologi konvensional saat ini.

Namun demikian, ia mengakui bahwa saat ini sistem tersebut masih bekerja pada tekanan tinggi sekitar 200 bar.

Oleh karena itu, tim peneliti tengah melakukan upaya untuk menurunkan tekanan operasional secara bertahap.

"Saat ini tekanan pada sistem penyimpanan masih berada di 200 bar, kami sudah mencoba menurunkannya hingga 80 hingga 60 bar. Tantangan berikutnya adalah mencapai tekanan sekitar 15 bar yang setara dengan kondisi penggunaan saat ini di masyarakat," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pengisian infrastruktur atau mother station saat ini juga masih menggunakan tekanan tinggi hingga 200 bar.

Kondisi tersebut menuntut penggunaan material tabung berkekuatan tinggi seperti CFRP yang mampu menahan tekanan hingga 700 bar, meskipun biaya produksinya relatif mahal.

Baca Juga:  BRIN dan Kemdiktisaintek Siapkan Peta Jalan Riset Indonesia 2045 dan Agenda hingga 2029

Ke depan, tantangan utama dalam pengembangan CubiTan adalah menciptakan material MOF yang tetap optimal pada tekanan rendah.

Dengan demikian, teknologi ini diharapkan dapat memanfaatkan tabung LPG yang sudah beredar di masyarakat.

“Kami berharap teknologi ini dapat menjadi salah satu opsi untuk mengurangi subsidi LPG yang saat ini mencapai puluhan triliun rupiah per tahun, sekaligus mendukung ketahanan energi nasional, mendorong pertumbuhan ekonomi. Kemudian menciptakan gas yang mandiri 'gas merah putih', menyediakan lapangan pekerjaan, dan pengembangan penelitian iklim berkelanjutan,” tutur Canggih Setya Budi.

(Sumber: Antara)

x|close