Likuiditas Ekonomi Maret 2026 Tembus Rp10.355 Triliun, Tumbuh 9,7 Persen

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Apr 2026, 12:25
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Pegawai Bank Aceh Syariah (BAS) Cabang Meulaboh menyiapkan uang rupiah untuk kebutuhan Lebaran di Kantor Bank Aceh Cabang Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Selasa (3/3/2026). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/tom/pri. Arsip foto - Pegawai Bank Aceh Syariah (BAS) Cabang Meulaboh menyiapkan uang rupiah untuk kebutuhan Lebaran di Kantor Bank Aceh Cabang Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Selasa (3/3/2026). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/tom/pri. (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta - Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa likuiditas perekonomian yang tercermin dari uang beredar dalam arti luas (M2) pada Maret 2026 mengalami peningkatan lebih tinggi, yaitu tumbuh 9,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) dengan total mencapai Rp10.355,1 triliun.

Direktur Departemen Komunikasi BI Anton Pitono dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis, 16 April 2026, menyampaikan bahwa pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang tercatat sebesar 8,7 persen (yoy).

“Pada Maret 2026, M2 tumbuh sebesar 9,7 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Februari 2026 sebesar 8,7 persen (yoy) sehingga mencapai Rp10.355,1 triliun,” kata Anton Pitono.

BI menjelaskan bahwa kenaikan tersebut didorong oleh pertumbuhan komponen uang beredar sempit (M1) yang meningkat sebesar 14,4 persen (yoy), serta uang kuasi yang tumbuh 5,2 persen (yoy).

Secara lebih rinci, perkembangan M2 pada periode ini dipengaruhi oleh peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat (Pempus) serta penyaluran kredit.

Baca Juga: Dorong Transisi Hijau, Maybank Indonesia Perkuat Strategi Keberlanjutan dan Tekan Emisi Karbon

Tagihan bersih kepada pemerintah pusat tercatat tumbuh 39,2 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang tumbuh 25,6 persen (yoy).

Di sisi lain, penyaluran kredit pada Maret 2026 tercatat tumbuh 8,9 persen (yoy), relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.

Dalam penjelasannya, BI menegaskan bahwa kredit yang dimaksud hanya mencakup pinjaman (loans), dan tidak termasuk instrumen keuangan lain yang setara seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker's acceptances), maupun tagihan repo.

Selain itu, data kredit juga tidak mencakup pinjaman yang diberikan oleh kantor bank umum di luar negeri, maupun kredit kepada pemerintah pusat serta pihak non-residen.

BI turut melaporkan perkembangan uang primer (M0) adjusted yang pada Maret 2026 tumbuh 16,8 persen (yoy), melanjutkan tren pertumbuhan Februari 2026 sebesar 18,3 persen (yoy), dengan total mencapai Rp2.396,5 triliun.

Baca Juga: Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen di Tengah Gejolak Global

Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan giro bank umum di BI (adjusted) sebesar 41,8 persen (yoy) serta uang kartal yang beredar sebesar 8,6 persen (yoy).

Dalam analisisnya, BI menyatakan bahwa pertumbuhan M0 adjusted tersebut telah memperhitungkan dampak dari kebijakan insentif likuiditas sebagai bagian dari pengendalian moneter yang telah disesuaikan.

(Sumber: Antara)

 

x|close