Bahlil Pastikan Cadangan Energi Nasional Aman di Tengah Tekanan Geopolitik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Apr 2026, 15:49
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers usai rapat terbatas dengan Presiden RI Parbowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (27/4/2026). (ANTARA/Fathur Rochman) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers usai rapat terbatas dengan Presiden RI Parbowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (27/4/2026). (ANTARA/Fathur Rochman) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan kondisi cadangan energi nasional, mulai dari bahan bakar minyak (BBM) hingga minyak mentah, berada dalam posisi aman dan melampaui batas minimum yang ditetapkan pemerintah.

"Saya menyampaikan, melaporkan terkait dengan perkembangan energi nasional kita. Baik dari sisi BBM produk, baik solar maupun bensin, dari semua aspek, alhamdulillah semuanya di atas standar minimum nasional," kata Bahlil usai rapat terbatas dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan bahwa ketahanan energi Indonesia tetap terjaga meskipun terdapat dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk situasi di Selat Hormuz.

Baca Juga: Cek Fakta: Bahlil Bakal Kenakan Denda Rp20 Juta Bagi Warga yang Gak Matikan Kulkas

"Jadi alhamdulillah sudah dua bulan, hampir dua bulan ketika kejadian, geopolitik di Timur Tengah tentang Selat Hormuz, kita masih stabil," ujarnya menambahkan.

Selain BBM, stok minyak mentah untuk kebutuhan kilang juga dilaporkan dalam kondisi aman. Menurut Bahlil, ketersediaan minyak mentah saat ini tidak mengalami kendala berarti karena masih berada di atas ambang batas minimum nasional.

Namun demikian, tantangan masih dihadapi pada sektor liquefied petroleum gas (LPG). Pemerintah tengah mencari berbagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan impor. Saat ini, konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya berkisar 1,6 hingga 1,7 juta ton.

Bahlil mengungkapkan bahwa Indonesia masih mengimpor sekitar 7 juta ton LPG setiap tahun sejak program konversi minyak tanah diterapkan. Keterbatasan bahan baku seperti propana (C3) dan butana (C4) menjadi kendala utama dalam pengembangan industri LPG domestik.

"Dan saya juga melaporkan bahwa untuk LPG ini kita putar otak terus. Hampir tiap malam tidak kita istirahat, kita mengkaji sumber-sumber LPG-nya," tutur Bahlil.

Baca Juga: Bahlil Dorong Pengembangan CNG untuk Kurangi Impor LPG

Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah tengah mempertimbangkan konversi batu bara berkalori rendah menjadi Dimethyl Ether (DME) serta opsi pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG).

"Ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi, dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan," kata dia.

Pemerintah berharap berbagai langkah strategis tersebut dapat memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus menjaga stabilitas pasokan di tengah tantangan global.

(Sumber: Antara)

x|close