Fatherless Krisis yang Dianggap Biasa dalam Keluarga

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Apr 2026, 16:50
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi Anak Kecil Sedih Ilustrasi Anak Kecil Sedih (Pixabay)

Ntvnews.id, Jakarta - Fenomena fatherless, atau kondisi seorang anak tumbuh tanpa kehadiran figur ayah dalam hidupnya, acap kali dipahami secara sempit sebagai ketiadaan ayah dalam keluarga. Padahal, persoalan lebih besar justru terletak pada ayah yang hadir secara fisik tetapi absen secara emosional. Ironisnya, kondisi ini kerap dianggap normal dalam masyarakat.

Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? menjadi cermin yang cukup jujur dalam kehidupan sehari hari. Film ini tak hanya bercerita tentang hubungan ayah dan anak, tetapi juga mengungkap persoalan bagaimana kelalaian emosional seorang ayah dapat membentuk kebingungan dan luka dalam diri si anak. Pertanyaannya, mengapa fenomena ini terus terjadi dan seolah dibiarkan?

Salah satu akar masalah fatherless adalah budaya yang masih memandang peran ayah sebatas mencari nafkah. Selama kebutuhan materi terpenuhi, banyak yang menganggap tugas ayah sudah selesai. Persepektif ini jelas bermasalah, karena mengabaikan kebutuhan emosional anak yang sama pentingnya.

Lebih jauh lagi, ada kecenderungan untuk menormalisasikan jarak emosional antara ayah dan anak. Ayah yang dingin, kaku dan jarang berkomunikasi sering dianggap hal wajar, bahkan identik dengan sosok "tegas". Padahal sikap tersebut dapat menciptakan jurang yang sulit untuk dijembatani oleh anak.

Dampaknya tidak bisa diremehkan. Anak yang tumbuh tanpa keterlibatan emosional ayah berpotensi mengalami krisis identitas, rendahnya kepercayaan diri, hingga kesulitan membangun relasi yang sehat.

Dalam jangka panjang, luka ini bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri maupun orang lain. Lebih krisis lagi, fenomena fatherless bukan hanya persoalan individu, tetapi juga kegagalan sistem sosial dalam membentuk pola pengasuhan yang sehat.

Baca Juga: Film AIN, Ketika Pandangan Menjadi Ancaman yang Tak Terlihat

Minimnya edukasi tentang parenting, tekanan ekonomi, serta konstruksi maskulinitas yang keliru turut memperparah keadaan. Laki-laki sering dididik untuk menekan emosi, sehingga ketika menjadi ayah, mereka sangat kesulitan untuk membangun kedekatan dengan anak.

Jika kondisi ini terus dianggap biasa, maka fatherless akan menjadi siklus yang berulang. Anak yang tumbuh tanpa figure ayah utuh berpotensi mengulangi pola sama ketika mereka sudah menjadi orang tua.

Sementara itu, penelitian dari American Psychological Association menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dan beban kerja tinggi dapat mengurangi kualitas keterlibatan orang tua, termasuk ayah, dalam kehidupan anaknya. Artinya faktor struktural juga meiliki peran besar dalam menciptakan kondisi fatherless.

Fatherless realitas kompleks yang berada di antara tanggung jawab pribadi dan tekanan sosial. Ayah memang memiliki peran kunci dalam kehidupan anak, tetapi mereka juga tidak terlepas dari sistem yang membentuk cara mereka berpikir dan bertindak.

Sudah saatnya peran ayah dipahami secara lebih utuh, tidak hanya sebagai penyedia materi, tetapi juga sebagai sosok yang hadir secara emosional. Tanpa perubahan cara pandang ini, kita hanya akan terus melahirkan generasi yang tumbuh dengan luka yang sama, kehilangan arah, meskipun memiliki ayah.

Karena itu solusi tidak cukup hanya dengan menyalahkan atau memaklumi. Dibutuhkan kesadaran bersama, baik dari individu, keluarga, maupun masyarakat untuk membangun kembali makna kehadiran ayah yang utuh.

Pada akhirnya, seorang anak tidak hanya membutuhkan sosok ayah yang ada, tetapi ayah yang benar-benar hadir.

x|close