Ahli WHO Peringatkan Bahaya Penyalahgunaan Gas Tertawa Bagi Kesehatan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Jan 2026, 11:35
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Virus Nipah, ancaman baru setelah pandemi COVID-19. Ilustrasi - Virus Nipah, ancaman baru setelah pandemi COVID-19. (ANTARA/Shutterstock/aa.)

Ntvnews.id, Jakarta - Ahli kesehatan sekaligus Direktur Penyakit Menular WHO Kantor Regional Asia Tenggara periode 2018–2020 Prof. Tjandra Yoga Aditama mengingatkan bahaya serius menghirup gas N2O atau nitrous oxide terhadap kesehatan, terutama bila digunakan di luar kepentingan medis.

“Pada mereka yang berkali-kali menghisap N2O maka dapat menimbulkan gangguan neurologik dan bahkan gangguan otak,” kata Prof Tjandra, Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) itu menjelaskan, berdasarkan data Food and Drug Administration (FDA), paparan N2O dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari sakit kepala, asfiksia, pembentukan bekuan darah, gangguan hitung darah, hingga masalah buang air besar dan buang air kecil.

Ia menambahkan, dampak lain yang dapat muncul antara lain kelemahan pada tungkai, kesulitan melangkah atau berjalan, palpitasi, defisiensi vitamin B12, serta gangguan kejiwaan seperti depresi, paranoid, halusinasi, gangguan kesadaran, hingga pada kondisi tertentu berujung kematian.

“Data lain juga menunjukkan penggunaan N2O berkepanjangan dapat menurunkan kesuburan atau fertilitas dan pada keadaan tertentu menimbulkan keguguran,” tuturnya.

Direktur Penyakit Menular WHO Kantor Regional Asia Tenggara 2018-2020, Prof. Tjandra Yoga Aditama. (ANTARA/Dokumentasi pribadi) <b>(Antara)</b> Direktur Penyakit Menular WHO Kantor Regional Asia Tenggara 2018-2020, Prof. Tjandra Yoga Aditama. (ANTARA/Dokumentasi pribadi) (Antara)

Baca Juga: BPOM Buka Suara soal Penyalahgunaan Whip Pink, Bakal Awasi Bareng BNN

Selain itu, Prof. Tjandra menyampaikan gejala akibat menghirup N2O dapat berupa sesak napas, pusing dan kebingungan, sakit kepala asfiksia, radang dingin di bawah kulit (“frostbite”), serta gangguan reproduksi. Hal tersebut merujuk pada data The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) dari Center of Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat.

Menurut dia, organ tubuh yang menjadi sasaran utama kerusakan akibat paparan N2O meliputi sistem pernapasan, sistem saraf, dan sistem reproduktif. Karena itu, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI tersebut mengimbau masyarakat tidak menyalahgunakan gas tersebut.

“Dengan berbagai bahaya yang ada maka jangan menggunakan N2O untuk alasan sensasi sesaat,” ujar dia.

Baca Juga: BNN Ingatkan Bahaya Gas Tertawa Whip Pink: Risikonya Fatal dan Permanen

Kepala Badan Narkotika Nasional atau BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto  <b>(ANTARA/Azmi Samsul M)</b> Kepala Badan Narkotika Nasional atau BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto (ANTARA/Azmi Samsul M)

Sebelumnya, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI juga mengimbau masyarakat agar tidak mencoba mengonsumsi “gas tertawa” atau Whip Pink yang mengandung dinitrogen oksida (N2O). Zat tersebut pada suhu ruang berwujud gas tidak berwarna dan tidak mudah terbakar, namun dapat menimbulkan efek euforia singkat bila dihirup.

“N2O bukan untuk konsumsi rekreasi. Efek euforianya singkat, tetapi risikonya fatal dan permanen,” ucap Kepala BNN RI Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.

(Sumber: Antara) 

x|close