Penyalahgunaan Gas Tertawa Berisiko Rusak Saraf dan Bikin Kecanduan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Jan 2026, 11:30
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Gas tertawa atau nitrous oxide (N2O). ANTARA/HO Gas tertawa atau nitrous oxide (N2O). ANTARA/HO (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Dokter spesialis neurologi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Brigjen TNI (Purn) dr. Sholihul Muhibbi., Sp.N., M.Si.Med mengingatkan bahwa penyalahgunaan gas tertawa atau nitrous oxide (N2O) dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan, terutama gangguan dan kerusakan saraf.

Di Jakarta, Kamis, 29 Januari 2026, dr. Sholihul menjelaskan bahwa secara ilmiah efek jangka pendek dari penyalahgunaan gas Nitrous Oxide (N2O) yang dikenal dengan sebutan “Whip Pink” dapat secara cepat menonaktifkan Vitamin B12 di dalam tubuh.

“Tanpa B12 yang aktif, lapisan pelindung saraf (Mielin) akan rusak, di samping itu terjadi juga kekacauan beberapa neurotransmiter (zat yang berperan sebagai mekanisme komunikasi sel saraf) serta menimbulkan hipoxia (kekurangan oksigen),” kata dokter Sholihul.

Baca Juga: Ahli WHO Peringatkan Bahaya Penyalahgunaan Gas Tertawa Bagi Kesehatan

Ia menambahkan, menghirup gas tersebut juga berpotensi menimbulkan ketergantungan. Secara medis, N2O dapat memicu pelepasan dopamin pada jalur reward otak yang menimbulkan sensasi kepuasan secara instan.

Sifat efeknya yang cepat menghilang justru mendorong otak untuk terus menginginkan dosis berikutnya. Kondisi tersebut, menurut dia, dapat berkembang secara bertahap menjadi ketergantungan psikologis yang kuat atau adiksi.

“Meskipun efek "high"-nya hanya bertahan 1-2 menit, hal inilah yang memicu perilaku "Binging" atau penggunaan berulang kali dalam satu sesi,” tutur dia.

Dokter Sholihul juga mengungkapkan bahwa penyalahgunaan gas N2O atau “Whip Pink” tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berisiko menimbulkan kerusakan jangka panjang. Dampak tersebut tidak hanya terjadi pada otak, melainkan juga dapat merusak sumsum tulang belakang.

Baca Juga: Kepala BNN Ungkap Bahaya Whip Pink: Rusak Saraf hingga Bikin Kematian

“Fenomena ini disebut Subacute Combined Degeneration (SCD),” imbuh dia.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penggunaan N2O dalam dunia medis dilakukan dengan standar ketat menggunakan mesin anestesi yang mencampurkan gas tersebut dengan oksigen.

Dengan prosedur medis tersebut, kadar oksigen yang diberikan lebih tinggi dari udara bebas, yakni di atas 30 persen, dan sistem akan berhenti secara otomatis apabila kadar oksigen menurun. Selain itu, terdapat protokol pembersihan atau “Wash-Out” dengan pemberian oksigen murni 100 persen yang hanya boleh dilakukan oleh tenaga profesional terlatih.

“Penggunaan zat yang bertujuan mendapatkan efek “rekreasional” psikotripika tanpa pengawasan tenaga profesional sangat berbahaya,“ ujar dia.

(Sumber: Antara) 

x|close