Riset BRIN Ungkap Faktor Risiko Kegagalan ASI Eksklusif

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Feb 2026, 13:30
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Kader Tim Pendamping Keluarga mengantarkan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk ibu hamil dan ibu menyusui di Desa Pengkok, Kedawung, Sragen, Jawa Tengah, Kamis (29/1/2026). Kader Tim Pendamping Keluarga mengantarkan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk ibu hamil dan ibu menyusui di Desa Pengkok, Kedawung, Sragen, Jawa Tengah, Kamis (29/1/2026). (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/rwa)

Ntvnews.id, Jakarta

 – Penelitian yang dilakukan oleh Yuly Astuti dari Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap sejumlah faktor utama yang secara signifikan meningkatkan risiko bayi tidak memperoleh ASI eksklusif.

Secara statistik, hasil riset menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat pendidikan SMP atau lebih rendah memiliki peluang 8,84 kali lebih besar untuk tidak memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu yang menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.

Sementara itu, anak dari ibu yang bekerja tercatat memiliki risiko 6,45 kali lebih tinggi tidak mendapatkan ASI eksklusif dibandingkan anak dari ibu yang tidak bekerja.

"Hasil analisis menunjukkan 58,1 persen anak dalam sampel tidak menerima ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Angka yang mencerminkan masih kuatnya hambatan struktural dan sosial dalam praktik menyusui," kata Yuly melalui keterangan di Jakarta pada Senin, 23 Februari 2026.

Baca Juga: 12 Makanan Sehat Untuk Memperlancar Produksi ASI

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan mixed-methods dengan melibatkan 706 ibu yang memiliki anak berusia 6 hingga 59 bulan.

Yuly menjelaskan bahwa studi ini mengidentifikasi pendidikan ibu, status pekerjaan, serta praktik pemberian makanan atau minuman selain ASI pada masa awal kelahiran (prelakteal) sebagai determinan paling dominan yang memengaruhi praktik menyusui di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Salah satu temuan penting adalah praktik prelakteal berupa pemberian madu atau gula kepada bayi yang baru lahir. Praktik ini meningkatkan risiko tidak diberikannya ASI eksklusif hingga 5,67 kali lipat.

Sebanyak 36,1 persen responden mengaku melakukan praktik tersebut, yang umumnya didorong oleh keyakinan budaya bahwa rasa manis akan membawa kebaikan bagi masa depan anak.

"Data kami menunjukkan bahwa praktik prelakteal bukan sekadar kebiasaan, tetapi memiliki dampak signifikan terhadap kegagalan ASI eksklusif. Ini menjadi titik intervensi yang sangat strategis," ujarnya.

Penelitian ini juga menemukan bahwa bayi laki-laki memiliki risiko lebih tinggi tidak menerima ASI eksklusif dibandingkan bayi perempuan.

Selain itu, anak yang berasal dari keluarga berpendapatan rendah cenderung lebih besar peluangnya mengalami praktik non-ASI eksklusif.

Wamen Isyana: Cegah Stunting melalui pemberian MBG kepada Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Balita <b>(Istimewa)</b> Wamen Isyana: Cegah Stunting melalui pemberian MBG kepada Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Balita (Istimewa)

Baca Juga: Ibu Menyusui Diimbau Hati-Hati Konsumsi Minuman Berpemanis Buatan

"Temuan ini mengindikasikan adanya dimensi sosial, ekonomi, dan konstruksi gender yang memengaruhi pola pengasuhan bayi, dan jenis kelamin anak turut mempengaruhi pemberian ASI eksklusif di lokasi penelitian. Cara pandang bahwa anak laki-laki penerus keluarga, harus sehat dan tidak cukup hanya diberikan ASI, sehingga menurut ibu-ibu di lokasi penelitian, anak laki-laki harus diberikan makanan lainnya sebelum waktunya," ungkap Yuly menjelaskan.

Menurutnya, konstruksi gender menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kegagalan pemberian ASI eksklusif.

Ia menegaskan bahwa tantangan dalam praktik ASI eksklusif tidak dapat dilihat semata-mata sebagai tanggung jawab individu ibu.

Yuly mendorong agar kebijakan dan promosi kesehatan disusun berbasis bukti ilmiah serta mempertimbangkan konteks sosial budaya setempat.

Dengan memadukan analisis kuantitatif dan temuan kualitatif, riset Pusat Riset Kependudukan BRIN tersebut memberikan gambaran menyeluruh mengenai determinan sosial dan budaya yang memengaruhi praktik ASI eksklusif.

"Temuan ini menjadi landasan penting dalam merumuskan strategi komunikasi perubahan perilaku yang lebih efektif dan kontekstual. Sekaligus memperkuat kontribusi BRIN dalam mendukung percepatan penurunan stunting dan pembangunan kesehatan berbasis data ilmiah," tutur Yuly Astuti.

 (Sumber: Antara)

x|close