Cara Mengatasi Post-Holiday Blues Usai Mudik Lebaran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Mar 2026, 13:25
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Pemilir menunggu keberangkatan kereta di Stasiun Gambir, Jakarta, Rabu (25/3/2026). PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 1 Jakarta mencatat per 25 Maret pukul 09.00 WIB volume kedatangan penumpang tercatat sebanyak 52.937 pelanggan, lebih tinggi dibandingkan keberangkatan sebanyak 35.855 pelanggan. ANTARA FOTO/Ahmad Naufal Oktavian Pemilir menunggu keberangkatan kereta di Stasiun Gambir, Jakarta, Rabu (25/3/2026). PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 1 Jakarta mencatat per 25 Maret pukul 09.00 WIB volume kedatangan penumpang tercatat sebanyak 52.937 pelanggan, lebih tinggi dibandingkan keberangkatan sebanyak 35.855 pelanggan. ANTARA FOTO/Ahmad Naufal Oktavian (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Kesehatan menilai tradisi mudik Lebaran bukan hanya sekadar perpindahan fisik, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan emosional yang kuat. Di balik itu, muncul fenomena post-holiday blues, yakni tantangan kesehatan mental yang kerap dialami masyarakat setelah liburan panjang.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa banyak individu merasakan gejala seperti kesedihan, kelelahan, kecemasan, hilangnya motivasi, hingga sulit berkonsentrasi usai Lebaran.

Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perjalanan panjang, tekanan finansial, hingga ekspektasi sosial untuk terlihat berhasil.

"Survei World Travel & Tourism Council tahun 2023, mencatat 41 persen pemudik Indonesia mengalami gejala kecemasan dan depresi ringan hingga sedang," kata Imran dalam keterangannya, Kamis, 26 Maret 2026.

Baca Juga: 8 Cara Efektif Mengatasi Post-Holiday Blues Setelah Libur Lebaran

Ia menambahkan bahwa dampak fenomena ini cukup luas, termasuk penurunan produktivitas kerja, peningkatan biaya ekonomi akibat absensi, serta potensi gangguan mental yang lebih serius jika tidak ditangani. Rendahnya tingkat pencarian bantuan di Indonesia, yang dipengaruhi stigma dan keterbatasan layanan, juga menjadi tantangan tersendiri.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Imran menyarankan langkah sederhana yang dapat dilakukan secara konsisten. Salah satunya adalah melakukan transisi bertahap setelah liburan, seperti mengambil waktu satu hingga dua hari untuk menata kembali rutinitas sebelum kembali bekerja penuh.

"Menjaga rutinitas kesehatan dasar juga penting. Tidur teratur, makan seimbang dan olahraga ringan dapat membantu tubuh dan pikiran beradaptasi kembali," katanya.

Selain itu, menjaga koneksi sosial juga dinilai penting untuk mengurangi rasa kehilangan setelah kembali dari kampung halaman. Aktivitas seperti menjadwalkan panggilan video dengan keluarga atau sahabat dapat membantu menjaga keseimbangan emosional.

Ia juga mengingatkan pentingnya membatasi penggunaan media sosial, karena perbandingan dengan kehidupan orang lain justru dapat memperburuk suasana hati. Menghabiskan waktu di ruang publik, seperti taman atau komunitas olahraga, juga dapat membantu mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan energi positif.

"Jika gejala berlanjut lebih dari dua minggu atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater," katanya.

Imran menambahkan bahwa saat ini berbagai layanan kesehatan mental sudah tersedia secara daring, sehingga masyarakat dapat lebih mudah mengakses bantuan profesional. Dengan langkah-langkah tersebut, post-holiday blues diharapkan dapat diatasi tanpa meninggalkan beban psikologis berkepanjangan.

Baca Juga: Mengapa Setelah Liburan Jadi Malas? Kenali Post-Holiday Blues

Lebaran 2026 sendiri diperkirakan menjadi salah satu periode mudik terbesar di Indonesia. Data Kementerian Perhubungan mencatat lebih dari 120 juta perjalanan terjadi selama masa mudik, dengan puncak arus balik yang mencetak rekor kepadatan, terutama di jalur tol Trans-Jawa dan layanan kereta api.

Fenomena post-holiday blues, lanjut Imran, bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga ditemukan di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada. Setelah periode libur panjang seperti Natal dan Tahun Baru, banyak negara melaporkan peningkatan gangguan kesehatan mental.

Di Amerika Serikat, misalnya, sekitar 6,2 persen orang dewasa mengalami gejala yang dikenal sebagai Christmas Depression setiap tahun, sementara 4,1 persen hingga 8,2 persen memenuhi kriteria klinis selama musim liburan.

Kelompok rentan di Indonesia juga menghadapi tantangan tersendiri. Remaja dan mahasiswa cenderung lebih mudah mengalami tekanan emosional akibat fase transisi kehidupan. Para perantau kerap merasakan kesepian setelah kembali ke kota, sementara perempuan lebih rentan terhadap depresi karena tekanan sosial dan beban peran ganda. Lansia juga memiliki risiko lebih tinggi akibat kesepian dan kondisi kesehatan kronis.

"Gambaran ini menunjukkan bahwa fenomena post-holiday blues bukan hanya terjadi di Indonesia setelah Lebaran, tetapi juga merupakan pola global yang dipengaruhi oleh tekanan sosial, ekspektasi kebahagiaan, serta transisi mendadak kembali ke rutinitas," katanya.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan hal yang manusiawi dan dapat diatasi dengan pendekatan yang tepat. Dengan dukungan sosial, kesadaran diri, serta intervensi yang sesuai, masyarakat diharapkan mampu menjaga kesehatan mental setelah liburan.

(Sumber: Antara)

x|close