Ntvnews.id, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus berkembang di Indonesia kini tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mulai menyasar aspek keberlanjutan lingkungan.
Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) menyatakan kesiapan penuh untuk mengelola limbah dapur MBG menjadi produk bernilai ekonomi seperti kompos dan bioavtur.
Ketua Umum APPMBGI, Abdul Rivai Ras menyampaikan bahwa pengelolaan limbah menjadi bagian penting dari keberhasilan program nasional tersebut. Menurutnya, dapur MBG harus menjadi contoh penerapan konsep zero waste yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga produktif.
"Program MBG adalah investasi besar bagi generasi emas Indonesia. Oleh karena itu, kami berkomitmen menjadikan setiap dapur MBG sebagai model zero waste yang menghasilkan nilai tambah, bukan beban bagi lingkungan dan anggaran negara,” ujar Abdul Rivai Ras dalam keterangannya, Jumat, 1 Mei 2026.
Potensi Besar Pengelolaan Limbah dari Ribuan Dapur MBG
Dengan ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi, APPMBGI melihat peluang besar dari dua jenis limbah utama:
1. Minyak Jelantah (Gelantah) diolah menjadi Bioavtur. Minyak jelantah yang terkumpul dari ribuan dapur sekolah dan SPPG program MBG akan dikumpulkan secara terorganisir dan diolah menjadi bio-avtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar pesawat ramah lingkungan.
Potensi dari sekitar 30.000 dapur MBG diperkirakan dapat menghasilkan jutaan liter minyak jelantah per bulan, yang dapat mendukung target produksi bioavtur nasional dan mengurangi emisi karbon penerbangan secara signifikan.
2. Sampah Organik diolah menjadi Kompos dan Pakan Maggot
Sisa bahan makanan dan sampah organik dari dapur MBG diolah menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi atau pakan maggot. Langkah ini mendukung prinsip zero waste, mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), serta menghasilkan produk yang bermanfaat bagi pertanian dan peternakan lokal.
Manfaat Ekonomi Sirkular dan Pemberdayaan Masyarakat
Ketua Umum APPMBGI Abdul Rivai Ras (APPMBGI/NTVNews.id)
Pengelolaan limbah ini bukan sekadar solusi lingkungan, melainkan juga menciptakan ekonomi sirkular yang nyata dalam rangka:
- Menciptakan lapangan kerja baru di tingkat lokal (pengumpulan, pengolahan, dan distribusi produk olahan limbah).
- Mengurangi beban anggaran negara dalam pengelolaan sampah.
- Memberdayakan UMKM dan masyarakat sekitar dapur MBG.
APPMBGI menjalin kolaborasi teknis dengan berbagai pihak, termasuk kementerian terkait dan Pertamina, untuk memastikan seluruh proses pengolahan memenuhi standar keamanan, kualitas, dan lingkungan yang berlaku.
Komitmen Jangka Panjang
Abdul Rivai Ras menambahkan bahwa pengelolaan limbah ini bukan program sementara, melainkan menjadi bagian integral dan jangka panjang dari ekosistem MBG.
"Kami ingin membangun model tata kelola yang mendukung sekaligus ketahanan pangan dan ketahanan energi nasional. Dari dapur sekolah hingga langit Indonesia, limbah hari ini bisa menjadi energi dan kesuburan tanah esok hari," tegasnya.
APPMBGI mengajak seluruh pemangku kepentingan, pemerintah, pengelola dapur, mitra swasta, dan masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Program MBG yang tidak hanya bergizi, tetapi juga bersih, hijau, dan berkelanjutan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) Abdul Rivai Ras (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)