Ntvnews.id, Moskow - Rusia meningkatkan pengamanan menyusul laporan intelijen Eropa yang menyebut Presiden Vladimir Putin menjadi sasaran potensi kudeta hingga upaya pembunuhan.
Dilansir dari CNN, Rabu, 6 Mei 2026, badan intelijen Eropa menyatakan Kremlin dan Putin mulai mengkhawatirkan kemungkinan kebocoran informasi sensitif sejak awal Maret 2026.
"Serta risiko rencana atau upaya kudeta yang menargetkan presiden Rusia," demikian laporan itu.
Laporan tersebut juga menyebut Putin semakin khawatir terhadap ancaman serangan menggunakan drone yang diduga dapat dimanfaatkan oleh elite politik Rusia untuk melakukan percobaan pembunuhan.
"Dia sangat waspada terhadap penggunaan drone untuk kemungkinan upaya pembunuhan oleh anggota elite politik Rusia," lanjut laporan tersebut.
Dokumen intelijen itu turut menyinggung mantan Menteri Pertahanan Rusia yang kini menjabat Sekretaris Dewan Keamanan, Sergei Shoigu.
"Shoigu dikaitkan dengan risiko kudeta, karena ia masih memiliki pengaruh signifikan di dalam komando tinggi militer," lanjut laporan tersebut.
Putin sebelumnya pernah menghadapi ancaman kudeta pada Juni 2023 ketika pemimpin kelompok tentara bayaran Wagner Group, Yevgeny Prigozhin, memimpin pergerakan pasukan menuju Moskow.
Laporan intelijen Eropa juga menggambarkan meningkatnya perselisihan internal dan paranoia di lingkungan Kremlin.
Baca Juga: Putin Tegaskan Dukungan untuk Iran, Rusia Siap Lakukan Apa Saja Demi Perdamaian
Sebagai respons, pemerintah Rusia disebut memperketat berbagai langkah pengamanan, mulai dari pemeriksaan fisik yang lebih ketat, larangan penggunaan ponsel pintar, hingga pembatasan mobilitas presiden.
Tak hanya itu, juru masak, pengawal, dan fotografer yang bekerja bersama Putin juga dilaporkan dilarang menggunakan transportasi umum.
Setiap tamu yang hendak bertemu kepala Kremlin disebut harus melewati pemeriksaan dua kali. Sementara para staf yang bekerja dekat dengan Putin hanya diperbolehkan menggunakan telepon tanpa akses internet.
Menurut laporan tersebut, aparat keamanan Rusia juga mulai mengurangi jumlah lokasi yang biasa dikunjungi Putin. Presiden Rusia dan keluarganya bahkan disebut tidak lagi mendatangi kediaman mereka di wilayah Moskow maupun Valdai.
Presiden Rusia Vladimir Putin. (ANTARA/Xinhua/Cao Yang/aa (Antara)
Laporan itu turut menyebut Putin belum mengunjungi fasilitas militer sepanjang tahun ini, meski sebelumnya dijadwalkan melakukan perjalanan rutin pada 2025.
Untuk menutupi pembatasan aktivitas tersebut, Kremlin disebut merilis rekaman video lama kepada publik.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Putin juga dilaporkan kerap menghabiskan waktu berminggu-minggu di bunker berfasilitas lengkap.
Baca Juga: BPS: Program MBG Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen di Awal 2026
Dokumen intelijen itu muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap Kremlin, lebih dari empat tahun setelah perang Rusia-Ukraina berlangsung.
Berbagai langkah pengamanan tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di internal Kremlin akibat persoalan yang semakin kompleks, baik di dalam negeri maupun di medan perang Ukraina, termasuk tekanan ekonomi dan munculnya tanda-tanda perbedaan pendapat di lingkaran elite Rusia.
Presiden Rusia Vladimir Putin (President of Rusia)