Ntvnews.id, Doha – Perdana Menteri Irak terpilih, Ali Faleh Al-Zaidi, menyatakan kesiapan negaranya untuk mengambil peran sebagai mediator antara Iran dan Amerika Serikat, sekaligus menegaskan dukungan terhadap jalur diplomasi guna meredakan ketegangan di kawasan.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui platform X pada Selasa, 06 Mei 2026, Al-Zaidi mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
“Dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, kami menegaskan dukungan terhadap proses diplomatik dan dialog untuk meredam krisis,” tulis Al-Zaidi.
Ia juga menegaskan bahwa Irak siap memainkan peran aktif dalam menciptakan perdamaian dengan menawarkan diri sebagai penengah.
Ia menambahkan pihaknya telah menyampaikan kesiapan Irak “untuk bertindak sebagai mediator antara Iran dan AS” guna mendorong penyelesaian damai.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.390, Dipicu Redanya Ketegangan AS–Iran
Ketegangan di kawasan meningkat setelah pada Jumat, 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran.
Serangan tersebut kemudian dibalas oleh Teheran dengan aksi militer yang menyasar wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Situasi sempat mereda ketika pada Senin, 07 April 2026, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata.
Namun, upaya lanjutan melalui perundingan yang digelar di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan berarti.
Baca Juga: AS Tuding China Biayai Iran, Desak Beijing Bantu Buka Selat Hormuz
Sejak saat itu, tidak ada laporan bentrokan baru, meskipun Amerika Serikat diketahui memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan di Iran.
Di tengah kondisi tersebut, berbagai pihak kini berupaya mendorong terselenggaranya putaran baru perundingan guna mencari solusi damai bagi kedua negara.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Sebuah spanduk raksasa yang menggambarkan Selat Hormuz dipajang di Lapangan Vali-e Asr, menampilkan frasa (Antara)