Ntvnews.id, Jakarta - Mesir pada Minggu mengecam keras peningkatan operasi militer Israel di Lebanon setelah negara itu memperluas serangan daratnya ke wilayah Lebanon selatan.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Mesir menyebut tindakan tersebut sebagai "agresi terang-terangan" yang mencerminkan niat Israel untuk menciptakan realitas militer baru di lapangan, yang dinilai melanggar hukum internasional, norma internasional, serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Mesir menegaskan kembali penolakannya terhadap segala bentuk pelanggaran atas wilayah kedaulatan Lebanon dan menyatakan dukungannya terhadap persatuan, institusi nasional, serta keutuhan wilayah negara tersebut.
Pemerintah Mesir juga memperingatkan bahwa perluasan operasi militer Israel berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan. Mesir menekankan bahwa Dewan Keamanan PBB dan pihak-pihak internasional terkait harus segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan agresi tersebut.
Pada hari yang sama, Kepala otorita Israel Benjamin Netanyahu menyatakan telah menginstruksikan militernya untuk memperdalam dan memperluas penguasaan atas wilayah yang dikuasai kelompok Hizbullah di Lebanon selatan.
Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon mulai berlaku pada April. Terlepas dari gencatan senjata tersebut, Israel hampir setiap hari terus melakukan serangan di Lebanon, sementara Hizbullah melancarkan sejumlah serangan terhadap posisi militer Israel.
ANTARA
Ilustrasi - Asap mengepul setelah serangan Israel terhadap Kota Yahmar al-Shakif dan Arnun di Provinsi Nabatieh, Lebanon selatan pada 11 Mei 2026. ANTARA/Anadolu/Ramiz Dallah/pri. (Antara)