Pemerintah Genjot Desa Siaga TBC, Perluas Deteksi dan Pencegahan hingga ke Akar Komunitas

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Mei 2026, 15:20
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari (tengah) dalam konferensi pers Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari (tengah) dalam konferensi pers (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah terus memperkuat upaya penanggulangan Tuberkulosis (TBC) dengan mendorong pembentukan “Desa Siaga TBC” sebagai garda terdepan dalam pencegahan berbasis masyarakat.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhamad Qodari, mengungkapkan bahwa saat ini telah ada 6.484 desa dan kelurahan di 117 kabupaten/kota yang menyatakan komitmen sebagai Desa Siaga TBC. Wilayah tersebut tersebar di 23 provinsi dan telah menjalankan langkah-langkah penanganan secara mandiri sesuai protokol.

"Di Desa Siaga TBC, kegiatannya komprehensif. Mulai dari screening, tracing, pendampingan pengobatan oleh kader, hingga pemberian dukungan makanan bergizi bagi pasien. Ini adalah gerakan yang terorganisir dari bawah," kata Qodari dalam konferensi pers update PHTC di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.

Meski cakupannya baru sekitar 9 persen dari total lebih dari 70 ribu desa di Indonesia, pemerintah menargetkan peningkatan signifikan hingga 30 persen desa dapat bertransformasi menjadi Desa Siaga TBC dalam waktu dekat.

Baca Juga: BMW Tembus 2 Juta Produksi Mobil Listrik, Tonggak Baru Industri Otomotif

Sejalan dengan program tersebut, pemerintah juga tengah mengembangkan metode deteksi aktif melalui pelacakan kasus TBC yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Uji coba program ini dilakukan di 13 kabupaten/kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan target 5.500 kontak erat pasien selama periode April hingga Mei 2026.

"Model deteksi aktif di Jawa Barat dan Jawa Tengah ini akan menjadi percontohan sebelum kami perluas ke tingkat nasional secara bertahap. Kami ingin memastikan setiap kasus tidak hanya ditemukan, tapi ditangani secara tuntas hingga sembuh," jelas Qodari.

Selain fokus pada pengobatan, peran kader desa juga dinilai krusial dalam memberikan terapi pencegahan bagi kelompok berisiko. Pendampingan langsung diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, sehingga target keberhasilan nasional sebesar 90 persen dapat tercapai.

Mensos Saifullah Yusuf (kiri) dan Kepala Bakom Muhammad Qodari dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI, Jakarta, Rabu (6/5/2026). ANTARA/Fathur Rochman. <b>(Antara)</b> Mensos Saifullah Yusuf (kiri) dan Kepala Bakom Muhammad Qodari dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI, Jakarta, Rabu (6/5/2026). ANTARA/Fathur Rochman. (Antara)

Di sisi lain, integrasi program pemeriksaan kesehatan di sekolah dengan CKG menjadi langkah preventif untuk melindungi anak-anak sejak dini dari risiko TBC.

Qodari menekankan bahwa intervensi di tingkat komunitas dan pendidikan merupakan investasi jangka panjang demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Sebagai penutup, Qodari menyampaikan pandangan mendalam terkait tujuan besar dari berbagai program tersebut. Ia menilai bahwa setiap target yang ditetapkan pemerintah memiliki makna penting dalam menjaga ketahanan keluarga dari ancaman penyakit menular.

"Di balik setiap pasien yang diobati, ada keluarga yang terlindungi. Di balik setiap rumah yang diperbaiki dan setiap anak yang di-screening, ada harapan agar mereka bisa tumbuh sehat, pergi sekolah, dan meraih masa depan yang lebih baik," pungkasnya.

x|close