Ntvnews.id, Taheran - Otoritas Iran kembali melaksanakan hukuman mati dengan menggantung seorang pria yang dinyatakan bersalah karena menjadi mata-mata bagi Israel dan Amerika Serikat.
Eksekusi ini menjadi bagian dari gelombang hukuman mati yang meningkat di tengah ketegangan perang Iran dengan kedua negara tersebut.
"Erfan Shakourzadeh... digantung karena berkolaborasi dengan dinas intelijen AS dan dinas mata-mata Mossad," kata situs web Mizan Online milik lembaga peradilan Iran, dilansir dari AFP, Selasa, 12 Mei 2026.
Dalam laporan tersebut, tidak dijelaskan kapan eksekusi dilakukan maupun waktu penangkapan Shakourzadeh. Namun, ia disebut bekerja di salah satu "organisasi ilmiah Iran yang aktif di bidang satelit".
Baca Juga: Penolakan Trump atas Syarat Perdamaian, Iran: Tidak Penting
Selama ini, Iran kerap menjadi sorotan negara Barat yang menuduh program satelitnya berkaitan dengan pengembangan teknologi rudal balistik.
Mizan juga menyebut Shakourzadeh telah "dengan sadar dan sukarela" menyerahkan informasi rahasia kepada CIA dan Mossad.
Sejumlah kelompok hak asasi manusia menempatkan Iran sebagai negara dengan jumlah eksekusi mati terbesar kedua di dunia setelah China.
Organisasi Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia mencatat sedikitnya 1.500 orang dieksekusi di Iran sepanjang tahun lalu, salah satu angka tertinggi secara global.
Ilustrasi bendera AS dan Iran. (ANTARA/Anadolu Agency/pri) (Antara)
Diketahui, ketegangan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat meningkat sejak akhir Februari, meski gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April.
Sejak konflik tersebut, Iran tercatat meningkatkan jumlah eksekusi mati, terutama dalam kasus yang berkaitan dengan dugaan spionase dan keamanan nasional.
Sebelumnya, pada pekan lalu, Iran juga mengeksekusi tiga orang yang terlibat dalam aksi protes anti-pemerintah pada Desember dan Januari.
Ilustrasi Hukuman Gantung (Istimewa)