Ntvnews.id, Riyadh - Arab Saudi mengumumkan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan tiga drone yang memasuki wilayah udaranya dari arah Irak. Riyadh menegaskan siap mengambil langkah yang diperlukan sebagai respons atas insiden tersebut.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi, Turki al-Maliki, mengatakan ketiga drone asing itu ditembak jatuh pada Minggu, 17 Mei 2026 pagi setelah terdeteksi melintas dari wilayah Irak menuju Arab Saudi.
Dilansir dari Al Arabiya, Selasa, 19 Mei 2026, dalam keterangannya Al-Maliki menegaskan bahwa Kerajaan Saudi memiliki hak untuk menentukan respons atas pelanggaran tersebut.
"(Saudi) Akan mengambil dan menerapkan semua tindakan operasional yang diperlukan untuk merespons setiap upaya untuk melanggar kedaulatan, keamanan, dan keselamatan warga negara serta penduduk," kata Al-Maliki dalam pernyataannya.
Ia juga menyebut Arab Saudi "berhak untuk merespons pada waktu dan tempat yang tepat".
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Irak terkait insiden tersebut.
Baca Juga: Indonesia dan Arab Saudi Perkuat Kerja Sama Jaminan Produk Halal
Pencegatan drone ini terjadi setelah bulan lalu Kementerian Luar Negeri Arab Saudi memanggil Duta Besar Irak di Riyadh terkait serangan dan ancaman berulang yang menargetkan Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya menggunakan drone yang diluncurkan dari Irak.
Pada hari yang sama, serangan drone juga memicu kebakaran di dekat kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Meski demikian, otoritas setempat memastikan tidak ada korban luka maupun dampak radiasi dari insiden tersebut.
"Otoritas di Abu Dhabi merespons insiden kebakaran yang terjadi pada generator listrik di luar perimeter dalam kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di wilayah Al Dhafra, yang disebabkan oleh serangan drone," demikian pernyataan Kantor Media Abu Dhabi tanpa mengungkap sumber serangan.
Ilustrasi - Drone atau pesawat nirawak. ANTARA/Xinhua/pri (Antara)
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah target di Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Iran juga disebut membatasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz selama konflik berlangsung. Amerika Serikat kemudian memberlakukan blokade angkatan laut sejak 13 April yang menargetkan jalur pelayaran Iran di kawasan strategis tersebut.
Gencatan senjata mulai diberlakukan sejak 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, perundingan damai setelahnya gagal menghasilkan kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik.
Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa batas waktu tertentu, meski tetap mempertahankan blokade laut terhadap Iran.
Bendera Arab Saudi (Arab News)