WHO Sebut Risiko Epidemi Ebola Tinggi di Afrika, Belum Masuk Darurat Pandemi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Mei 2026, 13:50
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Direktur Jenderal (Dirjen) WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus . ANTARA/Xinhua. Direktur Jenderal (Dirjen) WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus . ANTARA/Xinhua. (Antara)

Ntvnews.id, Jenewa - World Health Organization menyatakan risiko epidemi Ebola saat ini berada pada tingkat tinggi di level nasional dan regional, namun masih rendah di tingkat global serta belum masuk kategori darurat pandemi.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda tetap diklasifikasikan sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

Saat berbicara dalam konferensi pers, Direktur Jenderal (Dirjen) WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa Komite Darurat WHO menggelar pertemuan pada Selasa, 19 Mei 2026 dan setuju dengan penilaiannya sebelumnya bahwa situasi Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo dan Uganda merupakan Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC), namun bukan darurat pandemi.

Baca Juga: Kemenkes Tegaskan Belum Ditemukan Kasus Ebola di Indonesia

Tedros sebelumnya telah mengumumkan status PHEIC untuk wabah Ebola di kedua negara tersebut pada Minggu, 17 Mei 2026. Langkah itu menjadi pertama kalinya kepala WHO menetapkan status darurat internasional tanpa lebih dulu mengadakan pertemuan Komite Darurat.

Menurut Tedros, hingga kini terdapat 51 kasus Ebola terkonfirmasi di provinsi Ituri dan Kivu Utara di RD Kongo. Ia menyebut skala epidemi di RD Kongo jauh lebih besar dibandingkan Uganda.

Selain kasus terkonfirmasi, WHO juga mencatat hampir 600 kasus suspek dan 139 kematian suspek terkait wabah tersebut.

Tedros mengatakan jumlah kasus diperkirakan masih akan terus bertambah karena penyebaran virus sudah berlangsung cukup lama sebelum wabah berhasil terdeteksi.

Ia menegaskan perlunya langkah cepat untuk mencegah lebih banyak korban jiwa dan memperkuat respons internasional terhadap wabah Ebola.

WHO, lanjut Tedros, telah mengerahkan personel, pasokan medis, peralatan, dan pendanaan guna membantu otoritas nasional dalam menangani situasi tersebut.

Baca Juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola di RD Kongo sebagai Darurat Internasional, 131 Orang Tewas

Di Uganda, pemerintah melaporkan dua kasus Ebola terkonfirmasi di ibu kota Kampala, termasuk satu kasus meninggal dunia. Kedua pasien diketahui melakukan perjalanan dari RD Kongo ke Uganda.

Tedros juga mengungkapkan seorang warga negara Amerika Serikat yang bekerja di RD Kongo dinyatakan positif Ebola.

Untuk mendukung penanganan wabah, WHO menambah pendanaan darurat sebesar 3,4 juta dolar AS dari Dana Kontingensi untuk Keadaan Darurat atau Contingency Fund for Emergencies, sehingga total bantuan yang dikucurkan mencapai 3,9 juta dolar AS.

WHO mengingatkan pentingnya pengawasan lintas negara, deteksi dini, serta kerja sama internasional guna mencegah penyebaran Ebola lebih luas di kawasan Afrika.

(Sumber: Antara)

x|close