MUI Desak Menlu Sugiono Bebaskan 9 WNI yang Ditangkap Israel: Buktikan BoP Ada Gunanya!

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Mei 2026, 16:40
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Erick Yusuf membacakan taujihat terkait penahanan 9 WNI oleh Israel dalam acara konsolidasi bersama ormas Islam dan lembaga filantropi di Kantor MUI, Jakarta, Kamis (21/5/2026). (ANTARA/HO-MUI) Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Erick Yusuf membacakan taujihat terkait penahanan 9 WNI oleh Israel dalam acara konsolidasi bersama ormas Islam dan lembaga filantropi di Kantor MUI, Jakarta, Kamis (21/5/2026). (ANTARA/HO-MUI) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak Menteri Luar Negeri Sugiono membuktikan manfaat keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) menyusul penangkapan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) oleh Israel saat menjalankan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 menuju Gaza.

Desakan itu disampaikan Ketua MUI Bidang Ukhuwah, KH Zaitun Rasmin, dalam pernyataan sikap MUI terkait situasi darurat penculikan sembilan WNI peserta misi kemanusiaan tersebut.

“Diharapkan Menteri Luar Negeri bisa bersama dengan tujuh negara Islam lainnya yang selama ini selalu koordinasi dalam BoP. Ini kita minta dibuktikan bahwa BoP itu ada gunanya,” kata Zaitun dalam konferensi pers di Kantor MUI, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

MUI berharap Kementerian Luar Negeri memanfaatkan jalur komunikasi bersama tujuh negara Islam lain yang tergabung dalam BoP untuk menekan Amerika Serikat agar memerintahkan Israel membebaskan seluruh sandera.

Baca Juga: BRAINS Demokrat Gelar Diskusi Dampak Perang Iran, Beri Masukan ke Pemerintah

“Karena sepatutnya zionis ini mendengarkan kata-kata dari Amerika dan sepatutnya Presiden Amerika Donald Trump mendengarkan delapan negara Islam yang telah mendukung BoP tersebut,” ujarnya.

MUI juga menegaskan akan meminta Presiden RI Prabowo Subianto turun tangan apabila upaya melalui BoP tidak membuahkan hasil. Menurut Zaitun, keselamatan sembilan WNI menjadi perhatian utama karena dikhawatirkan menghadapi risiko perlakuan buruk apabila penahanan berlangsung lama.

“MUI meminta bertemu dengan Bapak Presiden Prabowo Subianto secepat-cepatnya bila masalah ini tidak terselesaikan. Kita khawatir kalau semakin lama ini berisiko karena mungkin saja ada perlakuan-perlakuan buruk,” kata dia.

Selain mendesak pemerintah, MUI juga berencana menggalang dukungan internasional guna mempercepat pembebasan para WNI. Surat resmi akan dikirimkan kepada Kementerian Luar Negeri, Presiden RI, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), serta berbagai organisasi kemanusiaan internasional.

Baca Juga: BKKBN: SDM Tanpa Stunting Jadi Kunci Indonesia Maju 2045

“Termasuk kami meminta MUI, pimpinan MUI akan memprakarsai pertemuan dengan lembaga-lembaga yang peduli terhadap kemanusiaan khususnya di Palestina, baik di tingkat ASEAN maupun di luar ASEAN untuk bersama-sama juga secara aktif menyuarakan perjuangan ini,” ucap Zaitun.

Sembilan WNI yang ditangkap Israel terdiri dari empat jurnalis dan lima aktivis kemanusiaan yang ikut dalam pelayaran Global Sumud Flotilla 2.0. Berdasarkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia pada Rabu (20/5/2026), para WNI sempat mengirimkan pesan darurat atau SOS melalui video yang berisi pernyataan bahwa mereka telah ditangkap.

Penangkapan dilakukan secara bertahap. Lima WNI yakni Andi, Rahendro, Andre, Thoudy, dan Abeng lebih dulu ditangkap pada Senin (18/5/2026).

Sementara itu, Herman dan Ronggo sebelumnya sempat menyatakan berhasil lolos dari intersepsi tentara Israel ketika lima WNI lainnya diamankan. Mereka menyebut manuver kapal yang dilakukan kapten berhasil membuat aparat Israel gagal mengejar pada saat itu.

x|close