Ntvnews.id, Houston - Pemerintah Amerika Serikat menunda rencana penjualan senjata kepada Taiwan senilai 14 miliar dolar AS atau sekitar Rp248 triliun di tengah masih berlangsungnya konflik dengan Iran. Penundaan tersebut disebut berkaitan dengan kebutuhan persediaan amunisi militer AS selama operasi perang berlangsung.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan keputusan itu juga dapat dijadikan bagian dari strategi negosiasi dengan China. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyatakan belum memberikan persetujuan final terkait penjualan senjata tersebut.
"Saya belum menyetujuinya. Kita lihat nanti apa yang terjadi. Saya mungkin akan melakukannya (menjual senjata ke Taiwan). Saya mungkin juga tidak akan melakukannya," kata Trump kepada Fox News, dikutip Jumat, 22 Mei 2026.
Trump juga mengungkapkan bahwa isu penjualan senjata ke Taiwan telah dibahas secara rinci bersama Presiden China Xi Jinping usai kunjungannya ke Negeri Tirai Bambu. Pemerintah AS disebut akan menentukan keputusan dalam waktu dekat.
Baca Juga: Trump Sebut Negosiasi dengan Iran Masuk Tahap Akhir, Apa Hasilnya?
Menurut laporan media, Amerika Serikat selama ini menjalankan prinsip “Six Assurances” atau enam jaminan kebijakan luar negeri terkait hubungan dengan Taiwan sejak era Presiden Ronald Reagan pada 1982. Salah satu poin kebijakan tersebut menyatakan bahwa AS tidak akan berkonsultasi dengan China mengenai penjualan senjata ke Taiwan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao menjelaskan keputusan penundaan dilakukan guna memastikan stok amunisi militer Amerika tetap aman di tengah operasi militer terhadap Iran yang diberi nama “Epic Fury”.
"Saat ini, kami menunda penjualan untuk memastikan kami memiliki amunisi yang dibutuhkan untuk Epic Fury dan kami punya cukup. Kami hanya memastikan semuanya tersedia, tetapi penjualan untuk militer asing akan dilanjutkan ketika pemerintah menganggapnya perlu," kata Cao dalam sidang Sub-komite Pertahanan Alokasi Senat di Washington D.C.
Meski pemerintah AS memastikan persediaan rudal masih mencukupi, sejumlah laporan menyebut perang Iran telah menguras sebagian besar stok amunisi strategis milik Pentagon. Sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu, militer AS dilaporkan menggunakan ribuan rudal, termasuk rudal jelajah siluman, Tomahawk, Patriot, Precision Strike, hingga ATACMS.
Baca Juga: Rupiah Tersungkur ke Rp17.677 Dibayangi Konflik Iran-AS
Akibat tingginya penggunaan amunisi, Gedung Putih disebut tengah menyiapkan permintaan tambahan anggaran perang kepada Kongres senilai 80 hingga 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp1,7 kuadriliun. Dana tersebut sebagian besar akan digunakan untuk mengisi kembali persediaan senjata canggih yang menipis selama konflik berlangsung.
Tekanan terhadap kebutuhan logistik militer AS sedikit mereda setelah diberlakukannya gencatan senjata sejak April, yang membuat intensitas penggunaan amunisi menurun secara signifikan.
(Sumber: Antara)
Arsip foto - Seorang pengunjuk rasa memegang bendera nasional Taiwan saat bendera AS berkibar di latar belakang selama demonstrasi untuk merayakan Hari Nasional Taiwan di Tsim Sha Tsui, Hong Kong, China (10/10/2019). (ANTARA/REUTERS/Athit Perawongmetha/as/aa) (Antara)