Relawan WNI Ungkap Dugaan Kekerasan Saat Ditahan Israel dalam Misi Kemanusiaan Gaza

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Mei 2026, 08:40
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Ronggo, relawan flotilla kemanusiaan ke Jalur Gaza menceritakan situasi penahanan oleh Zionis Israel usai berhasil kembali ke Indonesia pada Minggu (24/5/2026). ANTARA/Azmi Samsul M Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Ronggo, relawan flotilla kemanusiaan ke Jalur Gaza menceritakan situasi penahanan oleh Zionis Israel usai berhasil kembali ke Indonesia pada Minggu (24/5/2026). ANTARA/Azmi Samsul M (Antara)

Ntvnews.id, Tangerang - Seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama Ronggo membagikan kesaksiannya terkait proses penghadangan dan penahanan yang dialaminya bersama relawan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 oleh pasukan Israel saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza.

Ronggo mengatakan kapal yang membawa para relawan dari berbagai negara dicegat militer Israel pada 19 Mei 2026. Menurut dia, kapal tersebut dihampiri kapal militer dan dua speedboat bersenjata sebelum akhirnya dihentikan secara paksa.

"Mulai di-intercept itu tanggal 19 Mei. Ada kapal militer menghampiri kapal kami, lalu ada dua speedboat bersenjata. Kapal kami di-intercept, dibajak, dirusak," kata Ronggo saat ditemui di Terminal 3 Bandara Internasional Soetta, Tangerang, Banten, Minggu, 24 Mei 2026.

Ia menjelaskan setelah pencegatan terjadi, seluruh relawan dipindahkan secara paksa ke kapal militer Israel dan kemudian ditahan. Ronggo mengaku para relawan mengalami tindakan kekerasan selama proses penahanan berlangsung.

"Kami mendapatkan pukulan, tendangan di kapal militer. Lalu dipindahkan lagi ke Pelabuhan Ashdod untuk mengurus imigrasi, dan di sana kami mendapatkan pukulan kembali," katanya.

Menurut Ronggo, setelah berada di Pelabuhan Ashdod, para relawan kemudian dipindahkan ke lokasi penahanan di wilayah Negev, Israel bagian selatan, sebelum akhirnya dibebaskan dan diterbangkan melalui Bandara Ben Gurion menuju Yordania.

Baca Juga: Golkar Apresiasi Diplomasi Pemerintah yang Berhasil Pulangkan 9 WNI dari Penahanan Israel

Ia menuturkan dugaan kekerasan tersebut dialami hampir seluruh relawan dan aktivis Gaza Freedom Flotilla yang berasal dari berbagai negara. "Penyiksaan, kekerasan terus dilakukan oleh tentara Zionis. Hampir terhadap 400-an orang itu mendapatkan perlakuan yang sama,” ungkapnya.

Sementara itu, jurnalis Republika sekaligus relawan GSF, Thoudy Badai, mengaku bersyukur dapat kembali ke Indonesia dengan selamat bersama delapan WNI lainnya. Ia mengatakan pengalaman yang dialami para relawan tidak sebanding dengan penderitaan rakyat Palestina, khususnya para tahanan.

"Apa yang saya alami dan teman-teman alami, kekerasan dan kesedihan yang dilakukan Zionis Israel itu tidak sebanding dengan apa yang dialami ribuan tahanan Palestina, yang kebanyakan anak-anak, ibu-ibu, dan ibu hamil," ungkapnya.

Thoudy juga mengajak masyarakat internasional untuk terus menyuarakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina agar memperoleh kemerdekaan.

Baca Juga: 9 WNI yang Ditahan Israel Tiba di Tanah Air, Menlu: Terima Kasih kepada Turki hingga Yordania

"Saya harap semua masyarakat di dunia tetap dukung, tetap suarakan isu Palestina karena dengan begitu bisa mendorong Palestina untuk terus merdeka," tutur dia.

Sembilan WNI yang sempat ditahan otoritas Israel akhirnya tiba kembali di Indonesia melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Minggu sore. Sebelum tiba di Tanah Air, mereka menjalani proses evakuasi yang difasilitasi Kementerian Luar Negeri RI bersama perwakilan Indonesia di luar negeri sebagai bagian dari upaya perlindungan warga negara.

Para WNI tersebut diterbangkan menggunakan maskapai Emirates dari Istanbul menuju Dubai pada Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 19.35 waktu setempat, sebelum melanjutkan perjalanan dari Dubai menuju Jakarta pada Minggu, 24 Mei 2026 pukul 04.10 dan tiba di Indonesia sekitar pukul 15.30 WIB.

(Sumber: Antara)

x|close