Ntvnews.id, Jakarta -Amerika Serikat (AS) dan Iran menunjukkan sinyal positif menuju penghentian konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026. Setelah berbulan-bulan saling serang yang mengguncang kawasan Timur Tengah dan memicu gangguan ekonomi global, kedua negara kini dikabarkan semakin dekat pada sebuah kesepahaman awal untuk membuka jalan menuju perdamaian.
Perang yang pecah pada 28 Februari lalu bermula dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap Teheran. Situasi kemudian berkembang menjadi konflik regional setelah Iran melancarkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah sekutu Washington di kawasan Teluk. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran juga memperparah dampak ekonomi dunia, terutama terhadap distribusi energi global.
Di tengah eskalasi tersebut, Washington dan Teheran disebut telah mencatat kemajuan dalam pembicaraan diplomatik. Meski belum seluruh persoalan mencapai titik temu, kedua pihak dilaporkan sama-sama menyampaikan sinyal positif terkait peluang penghentian perang.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengungkapkan Teheran tengah menyiapkan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) sebagai landasan awal sebelum negosiasi menuju perjanjian final dilakukan. Kesepakatan menyeluruh diperkirakan dapat dibahas dalam rentang 30 hingga 60 hari ke depan.
Baca Juga: Bareskrim: Belum Ada Indikasi Kesengajaan dalam Pemadaman Listrik Massal di Sumatera
Sejauh ini, terdapat empat isu utama yang dipandang menjadi fondasi pembahasan antara kedua negara.
Program Nuklir Iran
Program nuklir Iran menjadi salah satu isu paling sensitif dalam negosiasi. Namun, Teheran menegaskan pembahasan mengenai nuklir belum akan masuk ke tahap awal kesepakatan dan akan dibicarakan secara terpisah pada fase berikutnya.
Di sisi lain, AS tetap menekan Iran agar memberikan komitmen konkret terkait stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi yang selama ini menjadi perhatian Barat. Meski demikian, media pemerintah Iran melaporkan belum ada komitmen apa pun yang diberikan Teheran mengenai program nuklirnya, dengan pembahasan diproyeksikan berlangsung setelah kesepakatan awal diteken.
“Pada tahap ini, kami tidak akan membahas detail masalah nuklir. Kami telah memutuskan untuk memprioritaskan masalah mendesak bagi kita semua: mengakhiri perang di semua front, termasuk Lebanon,” kata Baghaei.
Status Selat Hormuz
Poin krusial lain dalam negosiasi menyangkut status Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang memegang peran penting terhadap pasokan minyak dunia. Iran menginginkan tetap memiliki otoritas penuh terhadap lalu lintas kapal di wilayah tersebut, termasuk kewajiban izin bagi kapal asing.
Sementara itu, Washington mendorong agar kondisi selat dikembalikan seperti sebelum perang pecah. Namun, tuntutan tersebut dilaporkan mendapat penolakan keras dari Teheran.
Laporan media Iran menyebut salah satu opsi kompromi yang sedang dibahas memungkinkan Iran tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, dengan imbal balik berupa penghentian blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dalam kurun waktu tertentu.
Pelonggaran Sanksi Ekonomi
Pencabutan sanksi menjadi tuntutan utama Iran dalam pembahasan damai. Selama bertahun-tahun, Teheran mendesak pembebasan aset-aset negara yang dibekukan akibat kebijakan sanksi ekonomi AS.
Baca Juga: Africa CDC Peringatkan 10 Negara Afrika Berisiko Terdampak Wabah Ebola
Sumber yang dikutip media Iran menyebut pemerintah Iran menegaskan tidak akan menyepakati perjanjian apa pun tanpa langkah awal berupa pelepasan sebagian aset yang diblokir. Selain itu, terdapat kemungkinan pelonggaran sementara sanksi terhadap sektor minyak, gas, dan petrokimia selama proses negosiasi berlangsung.
Lebanon Masuk Agenda Perdamaian
Selain isu bilateral, Iran juga mendorong agar penghentian konflik tidak hanya terbatas pada hubungan dengan AS, tetapi mencakup seluruh front ketegangan regional, termasuk Lebanon.
Selama beberapa waktu terakhir, Israel masih melakukan serangan di Lebanon meski sebelumnya terdapat kesepakatan gencatan senjata. Iran disebut meminta agar Lebanon menjadi bagian dari paket perdamaian yang lebih luas.
Kelompok Hizbullah bahkan mengonfirmasi bahwa pemimpinnya menerima pesan dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi terkait proposal terbaru yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik kawasan.
Meski negosiasi masih berjalan dan belum menghasilkan keputusan final, perkembangan terbaru menunjukkan peluang deeskalasi semakin terbuka. Jika tercapai, kesepakatan awal antara AS dan Iran berpotensi menjadi titik balik penting dalam meredakan konflik terbesar di Timur Tengah tahun ini.
Ilustrasi - Bendera Amerika Srikat dan bendera Republik Islam Iran. ANTARA/Anadolu Agency/pri. (Antara)