Heboh Dugaan Skandal Riset WNI di Denmark, Peneliti Oxford Bongkar Indikasi Pemalsuan Data

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Mei 2026, 07:25
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Ilustrasi Belajar Al- Qur'an Ilustrasi Belajar Al- Qur'an (istockphoto.com)

Ntvnews.id, Jakarta - Dugaan skandal pemalsuan riset ilmiah yang melibatkan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) di Denmark tengah menjadi sorotan publik. Kasus ini ramai diperbincangkan setelah seorang peneliti Indonesia di University of Oxford, Wa Ode Dwi Daningrat, mengungkap sejumlah kejanggalan dalam abstrak penelitian yang dipresentasikan pada konferensi ilmiah internasional di Copenhagen.

Temuan tersebut pertama kali diungkap Dwi melalui akun Instagram pribadinya pada Senin (25/5), lalu viral di media sosial. Dugaan itu berkaitan dengan partisipasi sekelompok periset Indonesia dalam konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 yang berlangsung di Copenhagen, Denmark, pada 17–21 Mei 2026.

ISPPD sendiri dikenal sebagai salah satu forum ilmiah global bergengsi yang mempertemukan ilmuwan, dokter, epidemiolog, hingga peneliti kesehatan dari berbagai negara untuk membahas isu pneumonia dan penyakit pneumokokal.

Dwi, yang menekuni bidang clinical medicine di University of Oxford, mengaku mulai menaruh curiga setelah menemukan sejumlah keanehan dalam abstrak ilmiah yang diajukan kelompok peneliti tersebut. Ia menyebut ada sekitar 19 abstrak yang dipresentasikan, jumlah yang dinilai tidak lazim diselesaikan dalam waktu singkat, terlebih dengan kualitas data yang dipertanyakan.

Sebagai informasi, Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri penyebab penyakit pneumokokus yang memiliki klasifikasi berdasarkan struktur kapsul polisakarida atau serotipe. Keberadaan serotipe menjadi aspek penting dalam menentukan karakteristik bakteri sekaligus pengembangan vaksin, sehingga kesalahan pada data tersebut dianggap sebagai tanda bahaya dalam validitas penelitian.

Baca Juga: Wamen Nezar: Internet 100 Mbps Rp100 Ribu Bisa Jadi Game Changer

Tak hanya itu, Dwi juga menyoroti lokasi pengumpulan data penelitian yang dianggap sulit dipercaya. Menurutnya, riset lintas negara seperti yang dicantumkan dalam abstrak membutuhkan kolaborasi besar dengan peneliti lokal di berbagai wilayah, sesuatu yang dinilai tidak mudah dilakukan tanpa jejak metodologi yang jelas.

Salah satu abstrak yang menjadi sorotan berjudul Refugee and Displaced Elders Facing Winter Viral Pneumococcal Syndemics: CampCo-Infection Screening, Vaccination Gaps and Surge Preparedness in Humanitarian Settings across The Middle East And Africa. Dalam penelitian itu, kelompok peneliti mengklaim telah melakukan evaluasi di 12 kamp pengungsian besar di Lebanon, Yordania, Bangladesh, dan Sudan Selatan menggunakan metode surveilans retrospektif serta uji triase pernapasan terhadap kelompok lansia.

Selain dugaan kejanggalan data, Dwi mengaku menemukan hal mencurigakan terkait identitas anggota tim peneliti. Ia menyebut salah satu individu diduga menggunakan identitas berbeda saat presentasi, mulai dari pergantian nama, atribut, hingga penampilan.

Dwi menduga ada kemungkinan motif ekonomi di balik dugaan skandal tersebut. Pasalnya, peserta konferensi ISPPD berkesempatan memperoleh travel grant atau hibah perjalanan untuk mempresentasikan riset mereka.

Menurut Dwi, pada ISPPD 2026 tersedia 174 hibah perjalanan, dengan 96 di antaranya berasal dari Gates Foundation dan dikelola oleh penyelenggara konferensi internasional, Kenes Group.

Nilai bantuan yang diterima peserta disebut cukup besar. Seorang penerima hibah berpotensi memperoleh dana hingga sekitar 2.500 euro atau setara Rp52 juta, termasuk biaya akomodasi sekitar 200 euro per hari selama konferensi berlangsung.

Dwi sendiri diketahui menjadi salah satu penerima travel grant untuk mewakili kampusnya dengan dua abstrak penelitian terkait bakteri Streptococcus pneumoniae.

Hibah Disebut Dibatalkan

Dwi mengungkapkan dirinya telah melaporkan dugaan fabrikasi data tersebut kepada panitia konferensi pada 19 Mei 2026. Dua hari berselang, tepatnya 21 Mei 2026, panitia disebut mengambil langkah dengan membatalkan hibah perjalanan kelompok peneliti yang dipersoalkan. Namun, keputusan itu tidak diumumkan secara terbuka.

"Nah itu enggak ada [rilis]. Mereka apa namanya si konferensinya itu enggak yang dia ngasih press release atau apa ya seperti itu. Cuma saya ada rekaman obrolan saya sama si organizing committee-nya sih yang ini yang in-charge untuk reimbursement travel grant seperti itu," ungkapnya.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak penyelenggara ISPPD terkait dugaan tersebut. Sementara itu, pihak periset yang dimaksud juga belum memberikan tanggapan. Hingga artikel ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai polemik tersebut.

x|close