BPS: Pola Konsumsi Masyarakat Indonesia Bergeser ke Pengalaman dan Aktivitas Jasa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Mei 2026, 12:15
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan paparan mengenai perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia dalam forum diskusi ekonomi di Jakarta, Selasa (27/5/2026). (ANTARA/Aria Ananda) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan paparan mengenai perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia dalam forum diskusi ekonomi di Jakarta, Selasa (27/5/2026). (ANTARA/Aria Ananda) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya perubahan signifikan dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia yang kini semakin mengarah pada konsumsi berbasis pengalaman atau experience. Pengeluaran masyarakat lebih banyak dialokasikan untuk transportasi, restoran, hotel, hingga perjalanan wisata dibandingkan belanja barang seperti pakaian.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa pergeseran ini terlihat dari data konsumsi rumah tangga pada Triwulan I-2026. Sektor dengan pertumbuhan tertinggi kini didominasi oleh layanan jasa dan aktivitas mobilitas masyarakat.

“Ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat kita sudah lebih cenderung mengonsumsi yang lebih ke experience dibandingkan belanja baju,” kata Amalia di Jakarta, Selasa, 6 Mei 2026.

Ia menambahkan, momentum Ramadan dan Idul Fitri 1447 H turut memperkuat peningkatan mobilitas masyarakat, yang berdampak pada meningkatnya konsumsi di sektor transportasi dan pariwisata.

BPS juga mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara tumbuh 13,14 persen secara tahunan pada Triwulan I-2026. Data tersebut dihimpun melalui kerja sama dengan operator telekomunikasi menggunakan mobile positioning data dari Telkomsel, XL, dan Indosat.

Amalia menjelaskan metode tersebut memungkinkan pengukuran mobilitas masyarakat antardaerah tanpa mengungkap identitas individu.

Baca Juga: Kepala BPS Minta Kondisi Pasar Kerja Tak Hanya Dilihat dari Angka PHK

“Kami mengukur wisatawan nusantara itu bukan dengan survei, tetapi dengan bagaimana mereka melakukan mobilitas yang terekam dari mobile positioning data,” ujarnya.

Selain perubahan pola perjalanan, BPS juga melihat pergeseran dalam metode transaksi masyarakat yang semakin digital. Transaksi perdagangan melalui sistem elektronik tercatat tumbuh 27,8 persen secara tahunan, sementara secara kuartalan naik 6,19 persen pada Triwulan I-2026.

Sementara itu, penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mengalami lonjakan hingga 111,94 persen secara tahunan, menunjukkan semakin kuatnya adopsi sistem pembayaran digital di masyarakat.

Amalia menilai perubahan pola konsumsi ini juga dipengaruhi struktur demografi Indonesia yang kini didominasi generasi muda. Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus yang dirilis BPS pada 5 Mei 2026, milenial dan Generasi Z mencakup hampir 49 persen populasi.

Baca Juga: BPS Sebut Industri Manufaktur RI Masih Terus Tumbuh di Tengah Gejolak Global

Jika ditambah kelompok post-Gen Z di bawah usia 12 tahun sebesar 19,65 persen, maka sekitar 68 persen penduduk Indonesia berasal dari generasi muda.

“Inilah yang menyebabkan pola konsumsi masyarakat kita sudah berubah tidak seperti zaman dulu,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa perubahan ini perlu menjadi perhatian pelaku usaha maupun pembuat kebijakan, karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

(Sumber: Antara)

x|close