Trump Sebut Kritik Demokrat dan Oposisi Republik Hambat Negosiasi AS-Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Jun 2026, 09:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Xinhua) Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Xinhua) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan kritik terhadap Partai Demokrat serta sejumlah politikus dari Partai Republik yang menentang kebijakannya terkait Iran. Menurut Trump, berbagai komentar dan tekanan politik dari para pengkritiknya justru membuat proses negosiasi antara Washington dan Teheran menjadi lebih rumit.

Trump menilai Iran saat ini sangat ingin mencapai kesepakatan dengan AS. Ia bahkan meyakini bahwa hasil perundingan yang sedang berlangsung akan memberikan keuntungan bagi Amerika Serikat maupun pihak-pihak yang mendukungnya.

"Iran benar-benar ingin mencapai kesepakatan, dan itu akan menjadi kesepakatan yang baik bagi Amerika Serikat serta mereka yang bersama kami," tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya, Senin, 1 Juni 2026.

Dalam unggahan yang sama, Trump juga menyindir Partai Demokrat dengan sebutan "Dumocrats" dan menyinggung sejumlah anggota Partai Republik yang menurutnya tidak menunjukkan sikap patriotik.

"Tetapi apakah para "Dumocrats" (sindiran terhadap Demokrat) dan sejumlah Partai Republik yang tampaknya tidak patriotik itu tidak mengerti bahwa pekerjaan saya untuk menjalankan tugas dan bernegosiasi dengan baik menjadi JAUH lebih sulit ketika para oportunis politik terus berkicau negatif, pada tingkat yang belum pernah terlihat sebelumnya, berulang kali, bahwa saya harus bergerak lebih cepat, atau lebih lambat, atau berperang, atau tidak berperang, atau apa pun itu," ujar Trump.

Baca Juga: Hasil Pemeriksaan Medis Trump, Dokter Anjurkan Diet

Trump kemudian meminta para pengkritiknya untuk tidak terus mengomentari proses negosiasi yang sedang berjalan.

"Duduk saja dan tenang. Semuanya akan berjalan baik pada akhirnya, memang selalu begitu!" ujar Trump.

Selain menyinggung kritik politik di dalam negeri, Trump kembali mengungkapkan keyakinannya bahwa Iran telah memberikan sinyal positif terkait program nuklirnya. Ia mengklaim Teheran telah menyetujui untuk tidak mengembangkan senjata nuklir sebagai bagian dari proses diplomasi yang sedang berlangsung.

Dalam wawancara yang ditayangkan Fox News pada Sabtu, 30 Mei 2026, Trump menyebut jaminan terkait senjata nuklir menjadi syarat utama yang diinginkan Washington.

"Satu-satunya jaminan yang harus saya dapatkan adalah tak akan ada senjata nuklir. Mereka sudah setuju, dan itu sangat menarik," kata Trump.

Menurut Trump, selain memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, pemerintah AS juga memprioritaskan pembukaan kembali Selat Hormuz yang telah ditutup sejak awal Maret.

Penutupan Selat Hormuz dilakukan Iran setelah serangan besar-besaran yang dilakukan AS dan Israel terhadap wilayahnya pada 28 Februari. Sebagai respons atas serangan tersebut sekaligus untuk menekan lawan-lawannya, Teheran menutup jalur pelayaran yang menjadi salah satu rute perdagangan dan distribusi energi paling penting di dunia.

Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: ANTARA/Anadolu Agency/pri) <b>(Antara)</b> Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: ANTARA/Anadolu Agency/pri) (Antara)

Meski demikian, sejak perundingan dimulai, Iran berulang kali membantah sejumlah klaim yang disampaikan Trump, terutama mengenai isu program nuklir. Pemerintah Iran menegaskan bahwa fokus utama mereka saat ini adalah mengakhiri konflik yang sedang berlangsung, sementara pembahasan terkait program nuklir akan dilakukan dalam tahap berikutnya.

Di tengah proses diplomasi tersebut, sejumlah sumber juga menyebut Trump telah mengirimkan proposal baru kepada pemerintah Iran. Proposal tersebut dikabarkan memuat tuntutan yang lebih tegas dibandingkan usulan sebelumnya, meskipun rincian mengenai isi tuntutan itu belum diungkap ke publik.

Pekan lalu, AS dan Iran dilaporkan sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Pemerintah AS juga menyatakan bahwa pembicaraan mengenai program nuklir Iran mulai memasuki tahap negosiasi yang lebih intensif, meski berbagai perbedaan pandangan antara kedua negara masih terus mewarnai proses tersebut.

x|close