Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) tengah menyusun Buku Kesehatan Reproduksi Berdasarkan Siklus Hidup sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan reproduksi pada setiap tahap kehidupan.
Sebagai bagian dari proses penyusunan, Kemendukbangga menggelar kegiatan sosialisasi dan uji keterbacaan guna mengukur sejauh mana materi dalam buku tersebut dapat dipahami oleh calon pengguna. Hasil dari kegiatan ini akan menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan isi buku sebelum diterapkan dan disebarluaskan secara lebih luas kepada masyarakat.
Direktur Bina Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga, Riri Mutia Ichwan, menjelaskan bahwa buku tersebut dirancang untuk menjadi referensi yang relevan bagi berbagai kelompok usia.
“Buku ini disusun sebagai referensi untuk membantu masyarakat memahami kesehatan reproduksi sesuai dengan tahapan kehidupan masing-masing,” kata Riri Mutia Ichwan dalam keterangannya di Jakarta Selatan, Jumat, 5 Juni 2026.
Menurut Riri, pemahaman mengenai kesehatan reproduksi tidak seharusnya hanya difokuskan pada kelompok usia produktif atau usia subur. Pendekatan yang digunakan dalam buku ini mencakup seluruh fase kehidupan, mulai dari anak usia dini, remaja, dewasa, hingga lanjut usia, sehingga edukasi yang diberikan dapat berlangsung secara berkesinambungan.
Baca Juga: Kemendukbangga: Visi Ekonomi Presiden Prabowo Harus Didukung SDM Berkualitas
Ia menilai masih terdapat berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat terkait kesehatan reproduksi. Beberapa di antaranya adalah rendahnya tingkat literasi kesehatan reproduksi, berkembangnya mitos dan stigma yang keliru, praktik pernikahan usia dini, kehamilan yang tidak direncanakan, serta keterbatasan akses terhadap informasi dan layanan kesehatan yang berkualitas.
“Ada juga pendekatan edukasi yang belum terintegrasi berdasarkan siklus hidup dinilai membuat berbagai intervensi yang dilakukan belum berjalan optimal dan berkelanjutan,” ujar Riri.
Karena itu, Kemendukbangga berharap buku tersebut dapat menjadi panduan yang bermanfaat bagi pengelola program maupun masyarakat luas dalam memahami isu kesehatan reproduksi secara menyeluruh. “Kami berharap sosialisasi dan uji keterbacaan buku kesehatan reproduksi berdasarkan siklus hidup ini dapat meningkatkan pemahaman serta membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan reproduksi pada setiap tahap kehidupan,” tutur Riri.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Jakarta Selatan Rizky Hamid menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai kegiatan sosialisasi dan uji keterbacaan menjadi langkah penting untuk memperluas edukasi kesehatan reproduksi kepada masyarakat.
Baca Juga: BPOM dan Kemendukbangga Gelar Aksi Nasional Cegah Penyalahgunaan Obat Tertentu di Kepri
“Kami sangat senang dan mengucapkan terima kasih kepada Kemendukbangga yang telah menginisiasi kegiatan ini. Peserta juga terlihat antusias dan menyimak dengan baik materi yang disampaikan oleh para narasumber,” ungkap Rizky.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung Suku Dinas PPAPP Jakarta Selatan itu diikuti oleh 40 peserta yang berasal dari berbagai unsur masyarakat. Mereka terdiri atas Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) tingkat kelurahan, petugas Pelayanan Keluarga Terpadu (PKT) kecamatan, kader kesehatan, Forum Anak, Forum Generasi Berencana (Genre), pengurus sekolah lansia, hingga peserta didik sekolah lansia. Keterlibatan berbagai kelompok tersebut diharapkan dapat memperluas penyebaran informasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sepanjang siklus kehidupan.
(Sumber: Antara)
Sosialisasi Buku Kesehatan Reproduksi Berdasarkan Siklus Hidup yang disusun oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) di Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026). ANTARA/HO-Pemprov DKI Jakarta. (Antara)