Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik dapat tercapai dalam waktu satu hingga dua hari ke depan.
Menurut Trump, proses perundingan masih terus berjalan meskipun ketegangan antara Iran dan Israel belum mereda.
"[Kesepakatan mengakhiri perang] bisa dicapai dalam satu atau dua hari lagi, tapi saya pikir semuanya berjalan baik," ujar Trump, seperti dikutip dari Anadolu, Rabu, 10 Juni 2026.
"Mereka maju mundur, dan sekarang mereka semua sepakat melalui saya untuk berhenti, dan kita berada di tahap akhir dari kesepakatan yang sangat, sangat baik yang tidak akan mengizinkan senjata nuklir dalam bentuk apa pun," tambahnya.
Ia juga menyebut bahwa jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz akan kembali dibuka setelah kesepakatan ditandatangani. Menurut Trump, hal itu dapat terjadi dalam dua hingga tiga hari mendatang.
Penutupan Selat Hormuz dilakukan Iran setelah Amerika Serikat bersama sekutunya melancarkan serangan besar ke negara tersebut pada 28 Februari lalu. Operasi itu dilaporkan menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat tinggi pertahanan Iran.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke Israel dan menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di negara-negara Arab.
Baca Juga: Trump Telepon Lagi Netanyahu, Ini Isi Obrolannya
Pada April lalu, Washington dan Teheran mencapai kesepakatan gencatan senjata yang kemudian terus diperpanjang tanpa batas waktu yang diumumkan secara rinci. Kesepakatan tersebut mencakup penghentian serangan terhadap Iran beserta kelompok-kelompok sekutunya, termasuk di Lebanon.
Meski demikian, hubungan kedua pihak masih diwarnai saling tuding pelanggaran kesepakatan. Iran menuduh Amerika Serikat menyerang kapal-kapal Iran di sekitar Selat Hormuz, yang dianggap bertentangan dengan komitmen gencatan senjata.
Selain itu, Teheran juga menuding Washington bertanggung jawab atas pelanggaran kesepakatan setelah sekutunya, Israel, melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Lebanon di tengah upaya menjaga stabilitas pascagencatan senjata.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu Ajensi/pri.) (Antara)