Ntvnews.id, New York - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengingatkan bahwa kondisi di Gaza masih dibayangi ketidakpastian serta penderitaan kemanusiaan yang sangat berat, meskipun gencatan senjata telah diumumkan delapan bulan lalu.
Pernyataan tersebut muncul di tengah masih berlanjutnya serangan mematikan yang dilakukan Israel di Jalur Gaza, meski kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat mulai diberlakukan sejak Oktober tahun lalu.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, sedikitnya 981 warga Palestina meninggal dunia dan 3.104 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diterapkan.
Secara keseluruhan, otoritas kesehatan Palestina melaporkan sedikitnya 72.991 warga Palestina tewas sejak perang di Gaza pecah pada 2023.
Di sisi lain, UNICEF mendesak Israel untuk mengambil langkah konkret dalam melindungi anak-anak Palestina setelah serangkaian serangan terbaru menyebabkan korban jiwa dan luka di kalangan anak-anak di Tepi Barat dan Gaza.
Dikutip dari TRT World, Sabtu, 13 Juni 2026, Direktur UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder, menyoroti peristiwa penembakan di sekitar Hebron yang menewaskan seorang bayi berusia tujuh bulan di wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel.
Baca Juga: PBB: Jumlah Serangan Pemukim di Tepi Barat Tembus 1.000 Kasus
Ia juga mengungkapkan keprihatinan atas kematian delapan anak dalam serangan Israel di Gaza pada akhir pekan lalu.
"Kita tidak boleh membiarkan ini menjadi hal yang normal. Anak-anak yang kehilangan nyawa akibat kekerasan seharusnya memicu kemarahan dunia dan harus dikecam di semua tingkatan," kata Beigbeder.
Menurutnya, kematian dan cedera yang dialami anak-anak beserta keluarga mereka, pengungsian paksa, serta serangan terhadap sekolah, rumah, fasilitas air, dan infrastruktur kesehatan merupakan bukti adanya pengabaian serius terhadap hak-hak anak.
Beigbeder juga meminta otoritas Israel memastikan setiap kasus yang menyebabkan anak-anak tewas atau mengalami luka berat diselidiki secara transparan, kredibel, dan menyeluruh.
Sebelumnya, sejumlah kelompok hak asasi manusia turut mendokumentasikan apa yang mereka nilai sebagai kegagalan sistematis Israel dalam menyelidiki keterlibatan tentara maupun pemukim Israel dalam berbagai serangan terhadap warga Palestina, termasuk anak-anak.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. (Gime5) (Antara)