Ntvnews.id, Pyongyang - Korea Utara kembali menegaskan bahwa statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir tidak dapat diubah. Pyongyang menyebut kemampuan nuklirnya sebagai elemen penting untuk menjaga stabilitas kawasan dan menolak seruan Amerika Serikat beserta sekutunya yang terus mendorong denuklirisasi.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah pertemuan trilateral antara Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat di Tokyo pada Jumat lalu. Dalam pertemuan itu, ketiga negara kembali menegaskan komitmen mereka untuk mewujudkan "denuklirisasi lengkap Semenanjung Korea", sebagaimana disampaikan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan.
"Retorika tak berarti AS dan pasukan bawahannya terhadap Korea Utara... tidak akan pernah memengaruhi posisi Korea Utara yang tak dapat diubah sebagai negara pemilik senjata nuklir," kata juru bicara yang tidak disebutkan namanya dalam pernyataan yang dipublikasikan oleh Korean Central News Agency, dikutip dari AFP, Senin, 15 Juni 2026.
"'Denuklirisasi' adalah masalah yang telah diselesaikan secara permanen," imbuhnya.
Baca Juga: Korut Bicara Nuklir Jelang Kunjungan Xi Jinping
Dalam pernyataan tersebut, Korea Utara juga menyinggung penjualan sistem persenjataan Amerika Serikat kepada Korea Selatan dan Jepang sebagai alasan yang memperkuat kebutuhan Pyongyang untuk mempertahankan program nuklirnya. Menurut mereka, kemampuan tersebut merupakan "jaminan keamanan yang kuat untuk stabilitas dan perdamaian regional".
"Tidak peduli seberapa keras AS, Jepang, dan Korea Selatan berdebat, mereka tidak akan pernah mengubah posisi Korea Utara saat ini sebagai negara pemilik senjata nuklir," kata pejabat tersebut.
Korea Utara diketahui terus mempercepat pengembangan program nuklirnya sejak pembicaraan dengan Washington mengalami kebuntuan pada 2019. Saat itu, pertemuan puncak antara pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Hanoi berakhir tanpa kesepakatan.
Bendera Korea Utara (korut) (Istimewa)
Diduga merujuk pada kegagalan perundingan tersebut, juru bicara Korea Utara menegaskan bahwa "tidak ada yang dapat mengembalikan 'denuklirisasi' yang hilang secara permanen dalam tren zaman".
Sebelumnya, Kim Jong Un juga menerima kunjungan Presiden China, Xi Jinping, di Pyongyang. Pertemuan itu berlangsung setelah Xi menggelar serangkaian pertemuan tingkat tinggi dengan Trump dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Beijing.
Berdasarkan laporan media pemerintah Korea Utara, isu denuklirisasi tidak dibahas dalam pertemuan antara Kim dan Xi tersebut.
Pyongyang selama ini berulang kali menegaskan tidak akan melepaskan persenjataan nuklirnya. Pemerintah Korea Utara menganggap senjata nuklir sebagai instrumen penting untuk pencegahan dan menjaga keamanan nasional. Bahkan, saudara perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, awal bulan ini menyebut kebijakan nuklir negaranya sebagai "garis tanpa mundur".
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kedua kiri) menghadiri upacara peluncuran kapal selam tempur nuklir taktis pertama di Korea Selatan, Rabu, 6 September 2023. Tugas pertama kapal selam nuklir itu adalah berpatroli di perairan antara Semenanjung Korea (Antara)