Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran hampir tidak tercapai akibat penolakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap proses tersebut.
Dalam wawancara dengan The New York Times pada Minggu, 14 Juni 2026, Trump menyatakan Netanyahu tidak mendukung kesepakatan karena tetap menginginkan kelanjutan operasi militer di kawasan. Menurut Trump, sejumlah serangan Israel di Lebanon bahkan hampir menggagalkan jalannya perundingan damai yang sedang berlangsung.
"Dia orang yang sangat sulit," kata Trump mengenai Netanyahu.
Trump juga menilai Israel seharusnya mengapresiasi upaya Washington dalam menghentikan konflik dan mencegah eskalasi lebih lanjut di kawasan Timur Tengah.
"Sejujurnya, dia harusnya sangat berterima kasih kepada kami karena telah melakukan ini (menghentikan pertempuran). Sebab jika Iran punya senjata nuklir, Israel tidak akan bertahan dalam dua jam," tambah Trump.
Baca Juga: Dibantai Swedia 1-5, Timnas Tunisia Pecat Sabri Lamouchi?
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada hari yang sama ketika ia mengumumkan tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran. Menurutnya, penandatanganan resmi kesepakatan akan dilakukan di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.
Trump menjelaskan bahwa salah satu poin dalam kesepakatan itu adalah jaminan bahwa Selat Hormuz akan tetap terbuka dan bebas dari pungutan bea masuk untuk jangka panjang. Namun hingga kini, rincian lengkap mengenai isi kesepakatan antara kedua negara belum diumumkan secara resmi.
Sebelumnya, kantor berita Iran Mehr melaporkan bahwa nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat mencakup penghentian pertempuran di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon. Selain itu, dokumen tersebut juga disebut memuat pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran serta pencairan aset keuangan Iran yang selama ini dibekukan.
Meski demikian, dalam wawancara yang sama, Trump menegaskan bahwa pencairan aset Iran tidak akan dilakukan sebelum Teheran memenuhi sejumlah komitmen yang telah disepakati. Salah satu syarat utama adalah pengurangan tingkat pengayaan uranium.
Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)
Trump mengatakan Amerika Serikat tidak akan meminta Iran menyerahkan seluruh material uraniumnya. Sebaliknya, Washington berencana bekerja sama dengan Teheran secara bertahap untuk mengurangi tingkat kemurnian material nuklir tersebut.
Hingga saat ini, Trump belum mengungkapkan batas waktu pelaksanaan komitmen tersebut. Ia hanya menegaskan bahwa posisi Iran saat ini berbeda setelah berbagai tekanan yang diberikan oleh Amerika Serikat.
"Mereka (Iran) tidak menginginkan serangan ketiga. Mereka peduli dengan kehidupan," kata Trump.
Trump meyakini langkah-langkah militer yang dilakukan Amerika Serikat sebelumnya memainkan peran penting dalam mendorong tercapainya kesepakatan damai tersebut.
"Intinya adalah serangan-serangan yang telah kami lakukan itu berdampak besar pada tercapainya kesepakatan ini, dampak yang sangat besar," ucapnya.
Arsip - Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu (kiri) berbincang dengan Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/py/pri.) (Antara)