Ntvnews.id, Moskow - Kremlin menegaskan bahwa pengunduran diri Perdana Menteri Inggris Keir Starmer tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap perbaikan hubungan antara Rusia dan Inggris.
Dalam konferensi pers di Moskow, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyampaikan bahwa Starmer tidak akan dikenang di Rusia sebagai sosok yang berhasil mendorong perbaikan hubungan bilateral kedua negara.
“Ada banyak pertanyaan mengenai apakah situasi akan membaik setelah dirinya. Namun, kecil kemungkinan ada tokoh di panggung politik Inggris yang memiliki posisi berbeda secara signifikan dari Keir Starmer terkait hubungan bilateral kami,” kata Peskov, dikutip Reuters, Selasa, 23 Juni 2026.
Dalam kesempatan yang sama, Peskov juga menyinggung serangan yang dilakukan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia. Ia mengatakan pemerintah tengah berupaya meminimalkan dampak serangan tersebut sekaligus menjaga kestabilan pasokan bahan bakar bagi masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan setelah otoritas Rusia mengumumkan adanya pembatasan penjualan bahan bakar di sejumlah stasiun pengisian. Dalam kondisi tersebut, distribusi di beberapa wilayah sementara diprioritaskan untuk layanan publik dan kebutuhan operasional negara yang dianggap vital.
Peskov menambahkan bahwa pemerintah Rusia terus melakukan koordinasi dengan perusahaan-perusahaan minyak untuk mengatasi gangguan pasokan tersebut.
Ia juga mengonfirmasi rencana pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Belarus Alexander Lukashenko dalam waktu dekat.
Baca Juga: PM Inggris Keir Starmer Mundur dari Jabatannya
Pertemuan tersebut disebut akan menjadi momentum untuk membahas pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang dianggap bernada ancaman terhadap Belarus.
Peskov menilai pernyataan Zelensky sebagai bentuk intervensi terhadap urusan domestik negara lain, sekaligus menegaskan bahwa Rusia tidak meragukan kemampuan Belarus dalam menjaga kedaulatan negaranya.
Selain itu, Peskov mengungkapkan bahwa telah terjadi komunikasi antara pihak Rusia dan Serbia terkait masa depan perusahaan minyak Serbia NIS, yang sebagian sahamnya dimiliki oleh perusahaan energi Rusia Gazprom.
Ia menyebut pembahasan tersebut masih bersifat komersial dan menolak memberikan rincian lebih lanjut. Saat ini, aset-aset Rusia yang terkait dengan NIS diketahui menghadapi tekanan akibat sanksi Amerika Serikat terhadap pemegang saham asal Rusia di perusahaan tersebut.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. /ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)