Ntvnews.id, Denpasar - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai bahwa sistem irigasi subak di Bali berhasil menjadi teladan bagi dunia dalam hal manajemen sumber daya. Metode tradisional ini terbukti mampu menyelaraskan produktivitas sektor pertanian yang minim emisi, menjaga kelestarian ekosistem, serta melestarikan nilai-nilai luhur kebudayaan.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, di Denpasar pada hari Rabu, 24 Juni 2026. Di sela-sela agenda Pertukaran Pengetahuan tentang Teknologi Mutakhir untuk Sistem Padi dan Peternakan Rendah Emisi, ia menegaskan bahwa subak yang telah dipertahankan warga Bali selama satu milenium lebih sangat layak menginspirasi komunitas global dalam merancang pertanian berkelanjutan.
Bagi Puji, esensi subak melampaui sekadar tata kelola pengairan sawah, melainkan sebuah manifestasi dari prinsip hidup Tri Hita Karana—konsep keselarasan yang menghubungkan manusia dengan sesama, lingkungan, dan Sang Pencipta.
Baca Juga: Kemendikbudristek: Kearifan Lokal Dalam Tata Kelola Air Seperti Subak di Bali Harus Terus Dijaga
"Saya tidak bisa membayangkan tempat yang lebih baik untuk membangun diskusi tentang masa depan sistem pangan selain di tempat yang nilai-nilai tersebut masih hidup dan diterapkan hingga saat ini," ujarnya.
Solusi Tekan Emisi Metana Sektor Pertanian
Lebih lanjut, Puji memaparkan bahwa perombakan sistem agrikultur yang kini sedang digalakkan oleh global wajib menyeimbangkan antara pemenuhan stok pangan, pelestarian alam, serta kemakmuran para petani.
Ia tidak menampik bahwa di satu sisi sektor pertanian merupakan pilar utama ketahanan pangan global, namun di sisi lain menjadi salah satu produsen emisi gas metana yang cukup masif. Oleh sebab itu, diperlukan metode terpadu yang dapat mendongkrak hasil panen sekaligus menjaga kelangsungan bumi.
Dalam kesempatan forum ilmiah tersebut, para delegasi lintas negara dari benua Asia dan Afrika diajak menyaksikan secara langsung penerapan budidaya tani berbasis subak di Bali. Kunjungan lapangan ini bertujuan sebagai studi banding kolektif dalam menciptakan model pertanian yang tangguh menghadapi dampak perubahan iklim.
Baca Juga:Harmoni Alam dan Budaya, Subak dan Jalur Rempah Diperkenalkan di World Water Forum 2024
Melalui warisan budaya Bali ini, Puji menaruh harapan besar agar implementasi kearifan lokal tersebut dapat diadopsi oleh negara-negara lain dalam menyusun sistem pangan rendah emisi yang adaptif dengan kebutuhan warga lokal masing-masing.
"Kita perlu meninggalkan Bali dengan komitmen nyata untuk bertindak sekarang dalam mewujudkan sistem pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan," katanya.
(Sumber: Antara)
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari memberikan sambutan dalam acara pertukaran Pengetahuan tentang Teknologi Mutakhir untuk Sistem Padi dan Peternakan Rendah Emisi di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu, 24 Juni 2026 (Antara)