Mendukbangga Minta TPK Perkuat Deteksi Dini Kasus Kekerasan dalam Keluarga

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Jun 2026, 18:15
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (mengenakan beskap hitam dengan kain dikalungkan berwarna kuning) dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Senin, 29 Juni 2026. Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (mengenakan beskap hitam dengan kain dikalungkan berwarna kuning) dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Senin, 29 Juni 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menyoroti kasus kekerasan yang dilakukan Taufik Hidayat terhadap kekasihnya dan menekankan pentingnya keberanian korban maupun lingkungan sekitar untuk segera melaporkan potensi kekerasan sejak dini.

Dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Yogyakarta, Senin, 29 Juni 2026, Wihaji mengingatkan peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam mendeteksi berbagai persoalan yang berpotensi terjadi di lingkungan keluarga.

"Kita punya Tim Pendamping Keluarga (TPK). Kemarin sudah saya ingatkan bahwa tugas kita sebagai TPK salah satunya adalah memastikan keluarga yang kita dampingi, kemudian memprioritaskan keluarga berdasarkan tingkat risikonya. Apabila ada perhatian-perhatian khusus yang memang perlu diperhatikan, tolong segera dilaporkan agar sejak awal, sejak dini, kita bisa melakukan mitigasi," katanya.

Wihaji mengaku prihatin atas kasus tersebut yang kini tengah diproses aparat penegak hukum. Ia meminta agar penanganan terhadap pelaku dilakukan secara adil sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Baca Juga: Mendukbangga: Komunikasi Keluarga Jadi Kunci Atasi Masalah Kesehatan Mental

Menurut dia, berbagai persoalan sosial seperti bunuh diri, perundungan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kekerasan terhadap anak harus dapat dicegah melalui langkah mitigasi sejak awal.

"Ada kasus bunuh diri, perundungan, kasus kekerasan dalam rumah tangga, termasuk kekerasan terhadap anak. Harapan kita, semua itu bisa dimitigasi sejak awal, di situlah fungsi TPK. Kita juga mengingatkan kembali teman-teman TPK yang jumlahnya sekitar 600 ribu di seluruh Indonesia agar benar-benar memprioritaskan keluarga yang membutuhkan perhatian dan segera melaporkan potensi maupun permasalahan yang ada," ujar dia.

Ia menilai TPK memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan berkelanjutan kepada keluarga yang memerlukan bantuan psikologis maupun pemulihan trauma.

"Kita juga mengingatkan kembali teman-teman TPK yang jumlahnya sekitar 600 ribu di seluruh Indonesia agar benar-benar memprioritaskan keluarga yang membutuhkan perhatian dan segera melaporkan potensi maupun permasalahan yang ada. Dengan begitu, pemerintah bisa mengambil langkah yang diperlukan, mulai dari edukasi hingga apabila diperlukan, penindakan yang tentu dilakukan bersama para pemangku kepentingan terkait," ucap Wihaji.

Baca Juga: Mendukbangga Sebut Ketahanan Mental Jadi Bekal Utama Generasi Muda Hadapi Era AI

Wihaji juga mengingatkan masyarakat mengenai tantangan baru yang muncul seiring perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, teknologi yang masuk ke kehidupan keluarga dapat memengaruhi cara berpikir jika tidak disikapi secara bijak.

"Kalau kita tidak hati-hati, algoritma dan pola pikir kita bisa menormalisasi hal-hal yang sebenarnya tidak normal menjadi dianggap normal, itu yang harus kita lawan. Gangguan kesehatan mental bukanlah sesuatu yang normal dan harus benar-benar diperhatikan. Sebab, menurut teori, survei, dan riset, lebih dari 50 persen kasus gangguan kesehatan mental berpotensi berkembang menjadi gangguan jiwa, sehingga ini harus menjadi perhatian," paparnya.

Ia menambahkan Kemendukbangga/BKKBN akan terus meningkatkan kapasitas Tim Pendamping Keluarga agar mampu melakukan pencegahan dan penanganan lebih dini terhadap berbagai persoalan keluarga yang berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

(Sumber: Antara)

x|close