Ntvnews.id, Berlin - Di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, hingga kota-kota besar di Indonesia, penggunaan pendingin ruangan atau AC telah menjadi solusi utama untuk menghadapi suhu panas dan kelembapan tinggi. Namun, situasi berbeda justru terlihat di banyak negara Eropa. Di kawasan ini, masyarakat lebih mengandalkan cara-cara sederhana seperti menutup tirai, menggunakan kipas angin, serta menyediakan air dingin untuk menghadapi cuaca panas.
Dilansir dari DW, Rabu, 1 Juli, 2026, menyebut data Departemen Energi Amerika Serikat, sekitar 90% rumah tangga di AS telah dilengkapi AC. Sementara itu, tingkat kepemilikan AC di Eropa hanya berkisar 20%, meskipun terdapat perbedaan yang cukup besar antarnegara.
Di negara-negara Eropa selatan seperti Spanyol yang memiliki suhu lebih panas, sekitar separuh rumah tangga telah menggunakan sistem pendingin sentral. Sebaliknya, di Jerman, tingkat kepemilikannya hanya mencapai sekitar 6%.
Kondisi tersebut tidak lepas dari fakta bahwa hingga beberapa tahun terakhir, AC belum dianggap sebagai kebutuhan mendasar di sebagian besar negara Eropa, terutama kawasan utara.
Cuaca panas sebenarnya bukan fenomena baru di Eropa. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, gelombang panas ekstrem yang berlangsung lama dan mengancam infrastruktur, ekosistem, serta kesehatan masyarakat semakin sering terjadi.
Data dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa kejadian panas ekstrem meningkat lebih cepat dari prediksi para ilmuwan, khususnya di wilayah Eropa Barat.
Baca Juga: WHO: Lebih dari 1.300 Korban Tewas akibat Gelombang Panas Ekstrem di Eropa
Analisis terbaru dari ClimaMeter, sebuah kemitraan riset Eropa yang mempelajari cuaca ekstrem, menemukan bahwa suhu pada Juni 2026 tercatat sekitar 2 hingga 4 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan kondisi serupa pada akhir abad ke-20.
Situasi ini "mendorong lonjakan permintaan listrik untuk pendingin ruangan," kata Tommaso Alberti, peneliti asal Italia yang berafiliasi dengan ClimaMeter, dalam sebuah pernyataan.
Permintaan AC dan perangkat pendingin di Jerman tercatat meningkat hingga 75% sepanjang periode 2019 hingga 2024, yang menjadi tahun terpanas dalam sejarah pencatatan modern. Sementara itu, Eurovent, asosiasi industri pemanas, ventilasi, pendingin, dan refrigerasi, juga melaporkan pertumbuhan pasar yang "stabil" dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, menurut Wakil Sekretaris Jenderal Eurovent, Stijn Renneboog, penolakan terhadap penggunaan AC masih cukup kuat di Eropa.
"Dalam tips cara tetap sejuk yang beredar di media sosial, saya masih melihat saran untuk menghindari penggunaan AC," katanya kepada DW melalui surat elektronik.
"Mesin pendingin ruangan masih terlalu sering dianggap kemewahan," katanya, seraya menambahkan bahwa kondisi panas menimbulkan risiko kesehatan masyarakat yang serius. "Ada puluhan ribu kematian akibat panas di Eropa setiap tahunnya."
ilustrasi - Cuaca sangat panas (Antara)
Sebagian besar warga Eropa menilai rumah mereka tidak dirancang untuk menghadapi musim panas yang semakin ekstrem. Banyak bangunan di Jerman dan negara-negara Eropa utara dibangun untuk mempertahankan panas selama musim dingin, bukan untuk memaksimalkan pendinginan saat suhu tinggi.
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa hampir setengah responden di Uni Eropa memilih meningkatkan perlindungan dari sinar matahari dan memperkuat insulasi bangunan sebagai upaya menghadapi panas. Namun, semakin banyak masyarakat yang juga mulai mempertimbangkan penggunaan AC.
"Era rendahnya penetrasi AC di Eropa akan segera berakhir," kata Helge Brinkmann, direktur asosiasi Boston Consulting Group yang fokus pada bidang energi hijau dan lingkungan, dalam analisis industri pada September 2025.
Meski demikian, pemasangan AC pada bangunan tua di Eropa bukanlah perkara mudah. "Meski teknologi pendinginan mudah diintegrasikan ke properti residensial dan komersial baru, memasangnya secara retrofitting pada infrastruktur yang sudah ada jauh lebih rumit," kata analisis tersebut. Renovasi besar memang memungkinkan pemasangan sistem baru, tetapi kota-kota bersejarah di Eropa sering menghadapi "hambatan regulasi dan estetika tambahan."
Selain itu, banyak penyewa tidak diperbolehkan memasang AC karena aturan kontrak sewa, atau enggan mengeluarkan biaya besar untuk properti yang bukan milik mereka. Akibatnya, masyarakat di negara-negara dengan tingkat penyewaan tinggi seperti Jerman, Denmark, dan Austria lebih banyak menggunakan metode pendinginan yang kurang efektif.
Pendinginan mulai dipandang sebagai isu sosial
Faktor biaya juga menjadi hambatan utama dalam penggunaan AC di Eropa. Kenaikan harga energi membuat biaya pendinginan rumah semakin mahal. Sebanyak 38% responden dalam survei skala Uni Eropa mengaku tidak mampu membayar biaya untuk menjaga rumah tetap sejuk.
Sebuah penelitian pada 2020 yang dilakukan peneliti Italia mengenai dampak pemanasan global terhadap penggunaan AC di negara-negara beriklim sedang seperti Prancis, Spanyol, Swedia, dan Belanda menunjukkan bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan rendah akan menjadi pihak yang paling terdampak ketika pendinginan menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan.
Renneboog menilai bahwa jika pemanas pada musim dingin telah dianggap sebagai kebutuhan dasar, maka sudah saatnya pendinginan pada musim panas juga memperoleh pengakuan serupa. "Mungkin sudah saatnya ada pengakuan serupa bahwa ketidakmampuan menjaga gedung tetap sejuk di musim panas juga mulai menjadi isu sosial dan kesehatan masyarakat yang serius," katanya.
AC berpotensi memperburuk krisis iklim
Kekhawatiran terhadap dampak lingkungan turut menjadi alasan rendahnya penggunaan AC di Eropa.
Konsumsi energi untuk pendinginan di Uni Eropa terus meningkat selama satu dekade terakhir, terutama sejak 2020. Berdasarkan data terbaru Eurostat, meskipun penggunaan energi untuk pemanas sedikit menurun pada 2024, konsumsi listrik untuk AC justru meningkat 15,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Di tingkat global, AC mengonsumsi sekitar 10% total listrik dunia setiap tahun. Permasalahan utamanya adalah sebagian besar listrik tersebut masih berasal dari bahan bakar fosil, yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa panas yang dilepaskan oleh AC ke lingkungan luar dapat meningkatkan suhu udara beberapa derajat, sehingga menciptakan siklus pemanasan yang berkelanjutan.
Baca Juga: WHO: Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Tewaskan Lebih dari 1.300 Nyawa
Renneboog menyebut transisi Eropa menuju energi bersih mulai membantu mengurangi emisi. Ia juga menilai pola konsumsi energi masyarakat kini tengah mengalami perubahan.
"Eropa tengah mengalami pergeseran musiman: makin banyak hari panas yang butuh AC, sementara hari-hari dingin yang butuh pemanas makin berkurang. Singkatnya, ya, kita akan pakai lebih banyak listrik untuk AC, tapi kemungkinan besar kita juga akan hemat energi untuk pemanas," katanya.
Berbagai alternatif pendinginan mulai dikembangkan
Sejumlah solusi yang lebih ramah lingkungan dibandingkan AC konvensional kini mulai dikembangkan.
"Bangunan baru bisa dirancang untuk meminimalkan kebutuhan pendinginan, dengan mengutamakan alternatif selain sistem AC," kata Jean-Sebastien Broc dari Institute for European Energy and Climate Policy saat gelombang panas melanda pada Juli 2025.
Alternatif tersebut meliputi desain bangunan yang memungkinkan sirkulasi udara alami, penggunaan material yang mengurangi penyerapan panas, serta pemasangan pelindung sinar matahari seperti penutup jendela, kanopi, dan atap yang menjorok keluar.
Pompa panas juga mulai dipertimbangkan karena mampu berfungsi sebagai alat pemanas sekaligus pendingin, sehingga dapat membantu menekan emisi karbon rumah tangga. Selain itu, keberadaan pepohonan dan taman air di perkotaan terbukti efektif menurunkan suhu lingkungan.
Berbagai kota di Eropa juga mulai menerapkan solusi bersama, seperti instalasi kabut pendingin dan pusat kesejukan publik. Di kota-kota seperti Paris, Stockholm, dan Kopenhagen, sistem pendingin terpusat memanfaatkan jaringan pipa bawah tanah untuk mendistribusikan air dingin ke banyak bangunan sekaligus.
Sementara itu, perkembangan teknologi pintar yang menggabungkan sensor dan kecerdasan buatan disebut mampu meningkatkan efisiensi AC modern hingga 40%, sehingga dapat menurunkan konsumsi energi sekaligus emisi karbon.
Seorang wanita berjalan di bawah sinar matahari saat gelombang panas dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius di Duisburg, Jerman, Rabu, 24 Juni 2026. (Antara)