Ntvnews.id, Jakarta - Anggota parlemen Irak Hind Al-Abbasi menjadi sorotan setelah muncul laporan yang menyebut rumahnya digeledah dalam operasi pemberantasan korupsi berskala besar. Dalam penggeledahan tersebut, aparat disebut menyita uang tunai senilai 57 juta dolar AS atau setara Rp1 triliun (kurs: Rp17.957), 27 kilogram emas murni, hingga pakaian dalam berlapis terbuat dari emas atau golden underwear.
Laporan itu juga menyebut penggeledahan terhadap Hind Al-Abbasi merupakan bagian dari penyelidikan yang lebih luas terkait dugaan penyalahgunaan dana publik dan praktik korupsi di Irak. Selain penyitaan sejumlah aset, operasi tersebut dikabarkan berujung pada penangkapan 47 tersangka yang terdiri dari anggota parlemen dan birokrat.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari lembaga pemerintah Irak mengenai penggeledahan di rumah Hind Al-Abbasi maupun rincian barang-barang yang diklaim telah disita. Walaupun nama Hind Al-Abbasi tercantum dalam situs resmi parlemen Irak, otoritas belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait laporan tersebut.
Operasi itu merupakan bagian dari agenda pemberantasan korupsi yang dijalankan pemerintahan Perdana Menteri Ali al-Zaidi. Aparat keamanan melakukan penggerebekan di sejumlah lokasi, terutama di Baghdad, dengan sasaran anggota parlemen, birokrat senior, dan pejabat publik.
Sedikitnya tujuh anggota parlemen bersama sejumlah pejabat tinggi dilaporkan termasuk di antara 47 orang yang ditahan dalam rangkaian operasi tersebut. Selain uang tunai dan emas, aparat juga disebut menyita senjata, amunisi, dan berbagai aset lainnya yang diduga berkaitan dengan tindak pidana korupsi.
Dalam operasi terpisah yang diumumkan Dewan Kehakiman Tertinggi Irak, penyidik menyita sekitar 10 juta dolar AS uang tunai, 3 miliar dinar Irak, perhiasan emas, sejumlah senjata laras panjang, serta sekitar 40 properti dalam penyelidikan yang melibatkan mantan wakil menteri perminyakan.
Perdana Menteri Ali al-Zaidi menegaskan pemerintah akan terus memperkuat upaya pemberantasan korupsi tanpa kompromi. Ia juga mengisyaratkan bahwa penyelidikan masih terus berkembang dan tidak menutup kemungkinan akan menyeret pihak-pihak lain dalam operasi berikutnya.
Anggota DPR/Parlemen Irak Hind al-abbasi (Instagram)