Ntvnews.id, Jakarta - Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein akhirnya menyampaikan permintaan maaf menyusul polemik lagu berbahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat yang viral di media sosial. Lagu tersebut menuai kritik karena liriknya dinilai mengandung stereotip terhadap perempuan serta dianggap merendahkan pengalaman biologis perempuan.
Menanggapi berbagai respons yang muncul, Om Zein menegaskan bahwa lagu tersebut bukan ditujukan untuk merendahkan perempuan. Ia menjelaskan karya itu merupakan refleksi atas perjalanan hidupnya sendiri dan telah diciptakan jauh sebelum dirinya menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
"Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu, saya nakal dan bersyukur tuhan menciptakan saya jadi lelaki, mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa jaga diri," ujar Om.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada siapa pun yang merasa terganggu atau tersinggung oleh lirik lagu tersebut.
"Maaf jika ada pihak merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu, namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu itu murni cerita tentang diri saya sendiri," katanya.
Baca Juga: Xiaomi Kirim 30.000 Mobil Listrik di Juni, Target Penjualan 2026 Masih Berat
Kontroversi bermula setelah potongan lirik Lalaki Langit, Lalanang Bejat beredar luas di berbagai platform media sosial. Sejumlah bagian lagu yang membandingkan pengalaman laki-laki dan perempuan menjadi sorotan karena menyinggung isu kehamilan, keguguran, menstruasi, hingga penggunaan atribut perempuan. Bagi sebagian kalangan, lirik tersebut tidak sekadar dimaknai sebagai humor, melainkan mengandung bias gender.
Lagu tersebut pertama kali diperkenalkan dalam rangkaian acara Hajat Bumi di Lingga Mukti sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Setelah itu, Om Zein mengunggah video penampilannya membawakan lagu tersebut melalui akun TikTok pribadinya, @omzein_bupatiaing, pada 18 Januari 2026.
Polemik lagu itu juga mendapat perhatian dari Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Atalia mengaku tidak menemukan pesan penghormatan terhadap perempuan dalam lirik lagu tersebut.
"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia, Rabu (1/7/2026).
Baca Juga: Pajak Pedagang Online, DPR: Jangan Bikin Pembeli Turun-Rugikan UMKM!
Menurut Atalia, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebebasan berekspresi atau selera seni, tetapi juga menyangkut nilai-nilai budaya Sunda yang selama ini dijunjung tinggi.
"Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah... Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan... Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih? Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," jelas Atalia.
Ia juga menilai isi lagu tersebut bertentangan dengan upaya melawan budaya patriarki yang masih menjadi tantangan di Indonesia.
"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?" pungkasnya.
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzen atau yang akrab disapa Om Zein (Instagram)